Petani Teladan, Ajari Warga Menanam dengan Seni dan Beli Hasil Panen di Atas Harga Tengkulak
Pemberdayaan masyarakat ini sebenarnya sudah di lakukan sejak setahun lalu, namun ternyata upayanya menuai sukses sejak lima bulan terakhir.
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ferri Amiril Mukminin
PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Pria berusia 45 tahun bernama Nandang Ahmad Holili asal Kampung Parakan Ceuli, Desa Pusaka Mulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta ini, sejak lima bulan terakhir memberdayakan warga sekitar untuk menanam sayuran. Tidak di lahan luas, cukup di halaman rumah dengan metode tanam hidroponik dan polybag. Belakangan, ia menyebut aktifitasnya sebagai bank sayuran.
Pemberdayaan masyarakat ini sebenarnya sudah di lakukan sejak setahun lalu, namun ternyata upayanya menuai sukses sejak lima bulan terakhir. Pasalnya, setiap warga yang menanam sayuran mulai dari cabe merah, bawang daun, bawang, bayam hingga tomat ini sudah sempat beberapa kali panen. Hasil panennya, dijual ke Nandang yang memiliki Saung Manglid di kampung itu.
"Iseng-iseng saja ngajakin warga untuk menanam sayur di halaman rumah, tidak usah pakai lahan luas, cukup di hidroponik dan polybag. Sudah berjalan lima bulan kebetulan belum lama ini mereka sudah panen, hasil panen mereka dijual ke saya sebagai pengelola bank sayuran," ujar Nandang ditemui di Saung Manglid, Minggu (29/1). Saung Manglid merupakan cafe yang menawarkan berbagai menu makanan khas Sunda dan sayuran yang ditanam petani sekitar kampung dengan cara organik. Nandang juga seorang petani sayuran, di cafenya berbagai kebun sayuran dapat ditemui.
Sebelumnya, Nandang memberi ilmu bercocok tanam hidroponik dan polybag pada masyarakat sekitar. Termasuk, memberi bahan hidroponik dan polybag pada warga. Ia juga meracik pupuk organik yang teruji sukses menyuburkan sayuran di lahan miliknya seluas tiga hektare. Pupuknya berbahan terasi, garam, gula putih, air beras dan kotoran hewan. Bentuknya berupa pupuk cair yang digunakan seminggu sekali.
"Alhamdulillah sudah ada yang panen dari warga. Hasil panennya dijual ke saya.Terakhir kemarin ada panen bawang daun, tomat dan seledri. Hitungan saya kemarin, satu kepala keluarga bisa sekali panen Rp 250 ribu. Angka itu cukup membantu kalau bagi orang yang tinggal di kampung," kata Nandang.
Setelah dijual kepadanya, Nandang lantas menjualnya kembali ke Pasar Induk Cibitung, Caringin, Cikopo hingga ke DKI Jakarta. Ia memutus rantai koneksi petani dengan tengkulak yang menawar harga sayuran terlalu rendah. Sedari awal, ia memberdayakan warga untuk menanam dengan penggunaan pupuk organik karena itu akan meningkatkan kualitas panen.
"Saya beli sayuran dari warga lebih dari harga yang biasa dibeli tengkulak karena sedari awal saya tekankan pada mereka untuk membuat sayuran dengan kualitas grade A. Misalnya, untuk harga tomat, dari tengkulak membeli tomat ke mereka bisa Rp 1000 tapi saya bisa beli tomat ke warga Rp 5 ribu untuk tomat grade a semua," ujarnya.
Di kampung itu sedikitnya ada 120 suhunan atau kepala keluarga 40 kepala keluarga lebih diantaranya sudah mulai terbiasa menanam sayuran di halaman rumah mereka. Nandang juga bekerja sama dengan Karang Taruna. Pantauan Tribun, mayoritas halaman rumah di kampung itu terdapat polybag dengan tanaman bawang daun, seledri dan bayam merah. Tidak hanya itu, di pinggir jalan desa pun demikian. Tamanan bayam merah ditanam secara vertikal di dinding-dinding rumah dan tembok penahan tebing.
"Selain menerima sayuran dari petani, saya juga menerima sayuran dalam bentuk polybag. Misalnya ada warga punya sayuran bawang daun di polybag usianya sudah dua bulan, sudah tumbuh daun dan batang, kami membelinya dengan harga Rp 10 ribu. Kemarin malah ada yang jual 130 polybag bawang daun dari warga," ujar pria lulusan SMP ini. tanaman di polybag itu kemudian ia jual kembali pada konsumen yang menghabiskan waktu akhir pekan di cafe itu.
"Suka banyak pengunjung disini yang suka beli sayuran dalam polybag, tidak semata-mata buat dipanen sih, tapi untuk di rumah mereka dan tentunya dijual ke pasar induk," katanya.
Ia mengaku sengaja mengajarkan dua cara tanam itu ke warga karena tidak semua warga memiliki lahan luas. Di samping itu, pun ia mengembangkan pertanian sayuran dengan seni karena menurutnya, bertani pun harus dikonsep semenarik mungkin. Seperti yang ia lakukan di cafe Saung Manglid, di setiap sudut banyak instalasi polybag, hydroponik hingga sayuran dengan ditanam secara vertikal. Sejumlah pengunjung tidak melewatkan berselfie di sejumlah sudut.
Farida (49) salah salah satu ketua rukun keluarga (RK) di kampung saat ditemui tengah membersihkan sampah di pot bayam merah yang ditanam secara vertikal. Menurutnya, sejak lima bulan terakhir ia dan beberapa warga setiap pagi mulai disibukkan merawat tanaman sayuran tersebut. Farida dan warga lainnya mendapat ilmu menanam secara vertikal dari Nandang. Termasuk membuat pupuk cair organik.
"Jadi ada kesibukkan diajak kang Nandang, tiap pagi merawat tanaman sayuran ini. Ini lagi tanam bayam merah karena katanya harganya lagi tinggi, mudah-mudahan cepat panen," ujar Farida. Ia mengaku menunggu panen sayuran miliknya. "Kebetulan saya belum panen, tapi sudah ada warga tetangga saya yang panen, ada yang sempat dapat Rp 500 ribu panen bawang," ujarnya. (men)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/nandang_20170129_134807.jpg)