Breaking News:

Cerpen Ayi Jufridar

Belati di Dada Alya

Beberapa perempuan di depan dan belakang Alya memekik, tersuruk beberapa langkah hingga menubruk tamu lain di dekat mereka.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Belati di Dada Alya 

Alya lalu mengucapkan selamat kepada mempelai wanita ketika mamanya mulai berbasa-basi dengan mempelai pria. Dia mempercepat langkahnya saat mendengar suara mamanya memuji kecantikan sang mempelai wanita. Kalimat itu ditutup dengan harapan agar mereka berdua bahagia dalam membangun keluarga sakinah. Entah apa yang dikatakan mamanya kemudian, yang jelas Alya hanya mampu menangkap samar suara tawanya. Alya berharap Mama tidak memanggilnya untuk berfoto bersama mempelai. Beruntung doa Alya terkabulkan, meski bagian itu tidak masuk dalam kesepakatan mereka sebelum berangkat tadi.

Alya dan mamanya membuat beberapa permufakatan sebelum berangkat ke pesta, termasuk ia bebas mengenakan pakaian apa pun sejauh itu tidak melanggar kesopanan. Mengenakan gaun hitam tentu bukan pelanggaran meski semua orang tahu itu simbol perkabungan.

Seminggu sebelumnya Mama sudah mendesaknya agar berbesar hati untuk datang ke pesta meski dengan dada terluka. Itu bukan tawaran mudah untuk Alya mengiyakannya. Lelaki itu adalah alasan tentang keberadaan belati yang kini menancap di dadanya.

Alya merasa tidak terlalu berhasil tadi. Tapi mengingat ia masih bisa tetap tegak melangkah dengan bibir tersenyum, itu patut disyukuri. Padahal, cerita penuh romansa di masa lalu bersama sang mempelai lelaki, janji-janji yang teringkari, dan penantiannya yang bermuara di ruang kosong, bagai film yang diputar ulang dalam ingatannya, saat berada di panggung pelaminan tadi. Sang Mama memuji-muji ketegarannya.

Udara panas menyergap seketika begitu Alya menjejakkan kaki di luar. Namun, Alya merasa lebih sejuk berada di luar gedung dibandingkan di dalam ruangan pesta meskipun dilengkapi pendingin udara.

"Kita langsung pulang?" Mama meraih tangannya, seolah ingin mengalirkan kekuatan.

"Alya ingin minum dulu, Ma," sahutnya. Banyak jenis makanan dan minuman di dalam sana. Tapi ia hanya mampu menelan beberapa suap nasi dan minum setengah gelas air putih dingin. Tak lebih.

Ketika sedang menunggu taksi, Alya merasa tubuhnya sangat ringan. Belati bergagang hati serasa sudah terlepas dari dadanya. Hilang tak berbekas. Tak ada luka menganga, tak terlihat darah mengalir.

Suara ribut-ribut di dalam gedung mengusik perhatiannya. Para tamu terlihat panik. Yang sudah telanjur keluar, masuk kembali penuh rasa ingin tahu. Lalu keluar lagi bersama arus orang-orang yang tak sejalan, ada yang mendesak masuk dan banyak yang bersesakan ingin keluar. Suasana semakin riuh.

"Ada apa?" Seseorang bertanya, mencari tahu pada beberapa tamu yang melewatinya.

"Ada pisau tertancap di dada mempelai pria!"

"Alya...?" Wajah Mama memucat. Ia menarik pergelangan tangan putrinya dan menyeretnya masuk ke dalam gedung. Raut kecemasan kentara membayang di wajahnya. Tapi Alya bersikukuh. Ia menarik tangan mamanya ke arah berlawanan.

"Taksi kita datang, Ma," sahut Alya tanpa menoleh lagi ke belakang. Sedikit pun tidak.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved