Breaking News:

Cerpen A Warits Rovi

Huruf-Huruf yang Menetas Jalan ke Surga

Ia duduk membisu, pikirannya teringat pada kata-kata istrinya dalam sebuah percakapan singkat beberapa menit sebelum ia berangkat.

Ilustrasi Huruf-Huruf yang Menetas Jalan ke Surga 

"Ini sudah jam 13.00, Pak. Sudah waktunya kita pulang," ujar stafnya menoleh ke arah Hamid yang masih sibuk di depan komputer.

"Iya. Sebentar lagi kita pulang. Tapi berkas-berkas ini harus dibawa ke rumah. Kita lanjutkan di rumah," jawab Hamid sambil menunjuk tumpukan berkas yang terjepit map karet di dekatnya.

"Dilanjutkan di rumah?" tanya stafnya setengah menganga.

"Iya. Wajib kita kerjakan di rumah. Kita bagi-bagi. Demi pengabdian," jawab Hamid sambil mengusap lelehan peluh di lehernya dengan sisi samping punggung tangan kirinya.

Stafnya hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke layar monitor. Dari raut wajahnya dapat diterka; ia masih abdi kelas teri yang masih keberatan untuk membawa tugas-tugas administrasi madrasah ke rumahnya.

"Jangan merasa keberatan. Hadapi semua tugas dengan hati yang menerima dan pikiran yang selalu optimistis mampu. Kamu lebih punya kesempatan daripada aku karena masih bujang. Aku yang sudah punya istri dan anak sanggup kok, he-he," bujuk Hamid sambil tertawa.

"Yakinlah, ini adalah jalan ke surga," tambahnya.

**

KANDIL semesta pagi hari membias ke punggung lembah, ladang, dan permukiman penduduk. Seberkas mendatar dengan warna jingga kekuningan pada pilar kayu rumah Hamid yang sederhana. Hamid, istri, dan anaknya sedang berkumpul di beranda. Bercakap, bersenda, tertawa, dan sesekali senyap kecuali hanya bunyi ketukan tuts-tuts komputer yang bertik-tok.

Keyakinan hati Hamid membwa sebuah kenyataan. Meski keluarganya tak bergelimang harta, dan sering tak punya uang, keharmonisan tertebar kepadanya. Mereka senantiasa ceria dan tidak pernah bertengkar. Meski kadang istri Hamid protes ketika tidak punya uang, protes itu terlontar dengan lembut dan direspons dengan yang lebih lembut pula. Honor Rp 300.000 yang turun setiap dua bulan sekali membawa berkah; dalam arti ditambah rezeki lain yang datang tak terduga.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved