Breaking News:

Cerita Pendek Guntur Alam

Sepasang Bocah yang Menanam Kenangan di Pekarangan Belakang

MARI menanam pohon kenangan, ajakmu, sebelum banjir merah menggenangi jalan kompleks depan rumah kita.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Taraju Pohon Kenangan 

"Jika besar, kau ingin jadi apa?" aku kembali bertanya, di antara rima puisi yang tak kunjung bisa kuracik.

"Aku bukan babi kecil yang ingin terbang," ujarmu. Dan kita tergelak. Bersama. Entah apa yang lucu. Oh, bukankah untuk tertawa kita tak butuh alasan? Sebab, terkadang untuk menangis pun kita tak butuh alasan. Kita bebas tertawa ketika kita ingin tertawa, kita bebas menangis ketika ingin menangis. Namun aku tahu sekarang, kita tertawa saat itu bukan karena jawabanmu lucu, tetapi kita tertawa karena ironilah yang lucu.

"Lalu, kau ingin jadi apa?"

Kau terdiam sejenak, memandangku dengan saksama, kemudian tersenyum.

"Aku ingin menjadi apa pun yang bisa membuatku bahagia."

"Apa yang membuatmu bahagia?"

"Menjadi boneka barbie, mungkin."

Aku mencibir. Kita tahu tak ada boneka barbie yang hidup bahagia. Sebab menjadi barbie katamu berarti menjadi apa pun yang diinginkan oleh anak-anak perempuan, bukan menjadi apa yang dia inginkan.

"Kalau kau mau jadi apa?"

"Aku ingin jadi Peter Pan."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved