Cerpen Apendi

Meretas Malam

Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Meretas Malam
Ilustrasi Meretas Malam 

Tapi aku sebagai narasi dapat menjadi siapa saja. Aku menerjemahkan diriku ke dalam narasi karena aku tidak tahu siapa aku sesungguhnya. Aku tidak percaya bahwa ultahku tanggal 24 Juni hanya karena orang tuaku mengatakan demikian.

Akan tetapi, narasi yang sedang dibaca oleh si gadis sudah berbeda dari diriku yang sekarang. Narasi itu adalah diriku di masa lalu. Gadis itu membaca bukuku karena ia ingin menemukan narasi dirinya dalam buku itu. Gadis itu ingin memahami dirinya dari narasi yang ditemukan oleh orang lain.

Aku kira itulah tujuan semua pembaca. Entah mengapa aku baru menyadarinya sekarang. Semua pembaca, kukira, setidaknya ingin lebih memahami dirinya sendiri setelah menyelesaikan satu buku. Dengan mempertimbangkan hal ini, kupikir hubunganku dengan gadis itu (atau gadis mana saja) tidak akan lebih dari hubungan antara penulis dan pembaca.

Kami sama-sama dua orang kebingungan yang berusaha memahami diri kami dari narasi yang ditemukan orang lain. Bagaimana mungkin kami dapat mengenal satu sama lain secara pribadi?

Saat gadis itu menemukan kecocokan narasi dirinya dengan narasi dalam bukuku, narasi diriku yang sekarang telah berubah. Entah apa yang bertambah atau berkurang, mungkin tidak akan disukai oleh si gadis. Lalu, suatu hari nanti, bisa saja gadis itu memutuskan untuk menulis buku dan menemukan narasinya sendiri. Dan aku akan mencoba mencari narasi diriku dalam buku itu.

**

AKU seharusnya tidak mengganggu gadis itu dengan mengajaknya berkenalan. Sama seperti sang gamer yang telah memilih untuk hidup di dunia game dibandingkan dengan di dunia nyata, aku telah memilih narasi sebagai jalan hidupku. Entah narasiku dibaca atau tidak, itu tidak penting. Tugasku malam ini, setiap malam, adalah menerjemahkan ulang versi diriku yang fana ke dalam narasi dan dunia rekaan yang kupercayai.

***
BAGI seorang pembunuh, dapat mengamati cara kerja detektif ketika sedang menyelidiki kematian yang merupakan hasil karyanya adalah suatu kepuasan terbesar yang tak dapat digantikan oleh apa pun juga. Sebuah apresiasi yang dinanti-nantikan manakala si detektif berdecak kagum sekaligus kesal karena tidak menemukan sebuah petunjuk pun. Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Oke, oke, perumpamaan tersebut mungkin terlalu dibesar-besarkan, tapi kurang lebih begitulah perasaanku malam ini. Seperti biasanya, setiap malam aku nongkrong di kafe ini untuk meretas malam—sebuah istilah yang kucuri dari sebuah judul buku karena cocok dengan pekerjaanku sebagai seorang penulis.

Aku tipe penulis yang hanya dapat bekerja pada malam hari ketika semua orang telah tertidur. Aku butuh ketenangan, privasi, dan energi malam yang pekat dan misterius. Di sisi lain, aku butuh sosialiasi. Aku butuh diyakinkan bahwa malam ini—setiap malam—ada orang-orang dengan tipe yang sama seperti diriku yang masih terjaga menanti fajar. Mengorbankan tidur untuk mengerjakan urusan yang dianggap penting dan berarti baginya.

Karena itu, hampir setiap malam semenjak buku pertamaku terbit, aku berada di kafe ini untuk menulis dan mengamati lalu lalang pengunjung serta kesibukan mereka sendiri-sendiri. Ada anak kuliahan dan pekerja kantor yang datang bersama teman atau pacarnya. Ada juga anak-anak muda yang datang sendiri sambil menenteng laptopnya. Beberapa dari mereka mungkin mempunyai bisnis rintisan sendiri, sebagian yang lainnya mungkin juga pekerja kreatif yang sama seperti diriku.

Kebanyakan dari mereka pulang sebelum matahari terbit. Tapi ada juga yang bertahan sampai pagi ketika orang-orang normal lainnya berangkat kerja. Di antara mereka ada seorang gamer yang menarik perhatianku. Entah bagaimana caranya, pemuda berusia dua puluh tahunan itu selalu bisa mendapatkan meja di pojokan yang strategis untuk menyendiri.

Dia selalu datang sebelum aku datang dan pulang setelah aku pulang. Mejanya pun penuh dengan pesanan makanan dan minuman. Pengunjung lain mungkin berpikir bahwa uang orang tuanyalah yang membayar semua makanan dan minuman itu. Tapi aku tahu dari game RPG yang dimainkannya bahwa pendapatannya dari jualan gold dan item telah cukup stabil untuk eksis berada di sini setiap malam. Sementara aku harus berhemat dengan memesan segelas capuccino dan dua buah donat—yang harus bertahan sampai pagi.

Jelas hal ini membuatku iri. Jika bisa mendapatkan uang dengan mudah dari bermain game, untuk apa aku repot-repot menulis? Buku pertamaku telah terbit selama delapan bulan. Royalti semester pertama cukup lumayan meskipun jauh dari yang kuharapkan. Kini, buku itu mulai susah ditemukan di toko buku karena tergeser buku-buku baru lainnya. Aku tahu bahwa royalti semester berikutnya akan menurun drastis, tapi aku masih keukeuh berada di sini setiap malam untuk menulis dan mencari inspirasi.

Dapat dibilang aku terinspirasi oleh gamer itu, dan sejujurnya aku sedang menulis novel tentang dunia game. Judul sementaranya adalah Malam Tanpa Akhir. Ceritanya tentang dua orang gamer yang menekuni game yang sama tapi berbeda nasib yang sangat jauh. Yang satu mati muda, yang lainnya sukses secara finansial dan menjadi gamer profesional. Perbedaan di antara mereka hanyalah faktor lingkungan yang mendukung dan yang menghambat.

Mungkin setelah novel itu terbit, aku dapat memberikan satu buah bukuku kepada gamer itu dan berkata, "Buku ini terinspirasi olehmu!"—dan siapa tahu malam berikutnya di sini, aku akan menemukannya membaca bukuku! Sedangkan aku akan melepas lelah sejenak untuk bermain game.

**

SEWAKTU sedang asyik mengkhayal dan memikirkan plot novelku, seorang gadis muda yang pernah kulihat sebelumnya masuk dan mengambil tempat di sampingku yang terpisah jarak yang cukup lebar untuk lalu lalang pengunjung yang lewat. Gadis itu mungkin lebih muda dua tahun dariku dan beberapa tahun lebih tua dari si gamer. Setelah menaruh buku-buku kuliah di mejanya, ia pergi sebentar untuk memesan minuman. Sesaat kemudian ia kembali, menaruh tas dan pesanannya, merapikan roknya dan duduk.

Sewaktu ia duduk, aku melirik betisnya sekilas untuk menyegarkan mataku. Lalu setelah itu aku tidak menghiraukannya selama kurang lebih sepuluh menit. Pada saat kupikir aku butuh penyegaran kembali setelah buntu memikirkan skill-skill game yang akan kuciptakan, aku terkejut setengah mati ketika melihat gadis itu sedang membaca bukuku! Ya, buku pertamaku yang sudah sulit ditemukan di toko buku!

Coba bayangkan betapa bahagianya aku! Aku tak pernah melihat gadis itu membaca novel. Ia biasanya sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Membaca novel mungkin adalah suatu kemewahan baginya, yang hanya bisa dilakukannya di waktu luang. Dan ketika memiliki kemewahan itu, ia memlih novelku untuk dibaca.

Novelku!

Dalam sekejap, dirinya menempati posisi yang spesial di mataku. Aku mulai memikirkan cara untuk berkenalan dengannya. Dan, kau tahu, mencari kata-kata yang tepat untuk berkenalan dengan seorang gadis baik itu di fiksi maupun realita sungguh amat melelahkan.

Seperti biasa, ketika pikiranku buntu biasanya aku membiarkan intuisi membimbingku. Tanpa pikir panjang, aku mengambil minumanku dan menghampirinya.

"Hai! Boleh aku duduk sini?" Klise sekali.

Tanpa menunggu jawaban, aku duduk di seberangnya. Mungkin ini terasa kurang sopan, tapi menurutku konyol juga seorang laki-laki menunggu persetujuan dari gadis yang ingin didekatinya.

"A... aku sering melihatmu di sini. Kamu mahasiswi?" (Duh! Basa-basiku benar-benar terdengar palsu.)

Gadis itu melirik buku kuliahnya dan lalu menatapku dengan tajam, "Mau apa kau?"

Aku terkejut dengan nadanya yang ketus karena aku pernah mendengarnya bicara dengan teman laki-lakinya sebelum ini dan suaranya menyenangkan. Oh, ya, sudahlah... mungkin karena aku orang asing. Mungkin karena pengaruh dari tokoh utama wanita di novelku yang memang sinis.

"Mm... boleh kenalan?"

"Aku sedang membaca!" tukasnya tegas. Ia lalu tidak menghiraukanku dan kembali membenamkan wajahnya pada novelku.

"Oh, ya? Buku apa? Bagus?" tanyaku agak antusias.

"Coba baca sendiri saja kalau kau mau tahu!" kata gadis itu kesal.

"Ceritanya tentang apa?"

Gadis itu menghela napas panjang, "Begini ya... aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi aku tidak punya waktu untuk ngobrol denganmu! Aku ingin membaca buku ini! Aku tidak ada waktu lagi selain malam ini. Tugas-tugas kuliahku menumpuk. Jadi, tolong hargai waktuku!"

Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

"Baiklah. Maaf, mengganggu!"—hanya itu yang bisa kukatakan untuk menyelamatkan mukaku. Aku kembali ke tempat dudukku dengan lesu dan disambut tatapan prihatin dari gamer yang kuceritakan.

Sesungguhnya, aku tidak tahu harus merasa bangga atau sakit hati. Ditolak oleh seorang gadis tentu saja pengalaman yang menyakitkan. Tapi dia menolakku karena ingin memahamiku. Aku sebagai pribadi memang tidak menarik dan biasa-biasa saja. Orang yang mengenalku mungkin berpendapat bahwa aku orang yang membosankan.

Tapi aku sebagai narasi dapat menjadi siapa saja. Aku menerjemahkan diriku ke dalam narasi karena aku tidak tahu siapa aku sesungguhnya. Aku tidak percaya bahwa ultahku tanggal 24 Juni hanya karena orang tuaku mengatakan demikian.

Akan tetapi, narasi yang sedang dibaca oleh si gadis sudah berbeda dari diriku yang sekarang. Narasi itu adalah diriku di masa lalu. Gadis itu membaca bukuku karena ia ingin menemukan narasi dirinya dalam buku itu. Gadis itu ingin memahami dirinya dari narasi yang ditemukan oleh orang lain.

Aku kira itulah tujuan semua pembaca. Entah mengapa aku baru menyadarinya sekarang. Semua pembaca, kukira, setidaknya ingin lebih memahami dirinya sendiri setelah menyelesaikan satu buku. Dengan mempertimbangkan hal ini, kupikir hubunganku dengan gadis itu (atau gadis mana saja) tidak akan lebih dari hubungan antara penulis dan pembaca.

Kami sama-sama dua orang kebingungan yang berusaha memahami diri kami dari narasi yang ditemukan orang lain. Bagaimana mungkin kami dapat mengenal satu sama lain secara pribadi?

Saat gadis itu menemukan kecocokan narasi dirinya dengan narasi dalam bukuku, narasi diriku yang sekarang telah berubah. Entah apa yang bertambah atau berkurang, mungkin tidak akan disukai oleh si gadis. Lalu, suatu hari nanti, bisa saja gadis itu memutuskan untuk menulis buku dan menemukan narasinya sendiri. Dan aku akan mencoba mencari narasi diriku dalam buku itu.

**

AKU seharusnya tidak mengganggu gadis itu dengan mengajaknya berkenalan. Sama seperti sang gamer yang telah memilih untuk hidup di dunia game dibandingkan dengan di dunia nyata, aku telah memilih narasi sebagai jalan hidupku. Entah narasiku dibaca atau tidak, itu tidak penting. Tugasku malam ini, setiap malam, adalah menerjemahkan ulang versi diriku yang fana ke dalam narasi dan dunia rekaan yang kupercayai.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved