Cerpen Apendi

Meretas Malam

Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Meretas Malam
Ilustrasi Meretas Malam 

Aku terkejut dengan nadanya yang ketus karena aku pernah mendengarnya bicara dengan teman laki-lakinya sebelum ini dan suaranya menyenangkan. Oh, ya, sudahlah... mungkin karena aku orang asing. Mungkin karena pengaruh dari tokoh utama wanita di novelku yang memang sinis.

"Mm... boleh kenalan?"

"Aku sedang membaca!" tukasnya tegas. Ia lalu tidak menghiraukanku dan kembali membenamkan wajahnya pada novelku.

"Oh, ya? Buku apa? Bagus?" tanyaku agak antusias.

"Coba baca sendiri saja kalau kau mau tahu!" kata gadis itu kesal.

"Ceritanya tentang apa?"

Gadis itu menghela napas panjang, "Begini ya... aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi aku tidak punya waktu untuk ngobrol denganmu! Aku ingin membaca buku ini! Aku tidak ada waktu lagi selain malam ini. Tugas-tugas kuliahku menumpuk. Jadi, tolong hargai waktuku!"

Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

"Baiklah. Maaf, mengganggu!"—hanya itu yang bisa kukatakan untuk menyelamatkan mukaku. Aku kembali ke tempat dudukku dengan lesu dan disambut tatapan prihatin dari gamer yang kuceritakan.

Sesungguhnya, aku tidak tahu harus merasa bangga atau sakit hati. Ditolak oleh seorang gadis tentu saja pengalaman yang menyakitkan. Tapi dia menolakku karena ingin memahamiku. Aku sebagai pribadi memang tidak menarik dan biasa-biasa saja. Orang yang mengenalku mungkin berpendapat bahwa aku orang yang membosankan.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved