Cerpen Apendi

Meretas Malam

Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Meretas Malam 

"Baiklah. Maaf, mengganggu!"—hanya itu yang bisa kukatakan untuk menyelamatkan mukaku. Aku kembali ke tempat dudukku dengan lesu dan disambut tatapan prihatin dari gamer yang kuceritakan.

Sesungguhnya, aku tidak tahu harus merasa bangga atau sakit hati. Ditolak oleh seorang gadis tentu saja pengalaman yang menyakitkan. Tapi dia menolakku karena ingin memahamiku. Aku sebagai pribadi memang tidak menarik dan biasa-biasa saja. Orang yang mengenalku mungkin berpendapat bahwa aku orang yang membosankan.

Tapi aku sebagai narasi dapat menjadi siapa saja. Aku menerjemahkan diriku ke dalam narasi karena aku tidak tahu siapa aku sesungguhnya. Aku tidak percaya bahwa ultahku tanggal 24 Juni hanya karena orang tuaku mengatakan demikian.

Akan tetapi, narasi yang sedang dibaca oleh si gadis sudah berbeda dari diriku yang sekarang. Narasi itu adalah diriku di masa lalu. Gadis itu membaca bukuku karena ia ingin menemukan narasi dirinya dalam buku itu. Gadis itu ingin memahami dirinya dari narasi yang ditemukan oleh orang lain.

Aku kira itulah tujuan semua pembaca. Entah mengapa aku baru menyadarinya sekarang. Semua pembaca, kukira, setidaknya ingin lebih memahami dirinya sendiri setelah menyelesaikan satu buku. Dengan mempertimbangkan hal ini, kupikir hubunganku dengan gadis itu (atau gadis mana saja) tidak akan lebih dari hubungan antara penulis dan pembaca.

Kami sama-sama dua orang kebingungan yang berusaha memahami diri kami dari narasi yang ditemukan orang lain. Bagaimana mungkin kami dapat mengenal satu sama lain secara pribadi?

Saat gadis itu menemukan kecocokan narasi dirinya dengan narasi dalam bukuku, narasi diriku yang sekarang telah berubah. Entah apa yang bertambah atau berkurang, mungkin tidak akan disukai oleh si gadis. Lalu, suatu hari nanti, bisa saja gadis itu memutuskan untuk menulis buku dan menemukan narasinya sendiri. Dan aku akan mencoba mencari narasi diriku dalam buku itu.

**

AKU seharusnya tidak mengganggu gadis itu dengan mengajaknya berkenalan. Sama seperti sang gamer yang telah memilih untuk hidup di dunia game dibandingkan dengan di dunia nyata, aku telah memilih narasi sebagai jalan hidupku. Entah narasiku dibaca atau tidak, itu tidak penting. Tugasku malam ini, setiap malam, adalah menerjemahkan ulang versi diriku yang fana ke dalam narasi dan dunia rekaan yang kupercayai.

***
BAGI seorang pembunuh, dapat mengamati cara kerja detektif ketika sedang menyelidiki kematian yang merupakan hasil karyanya adalah suatu kepuasan terbesar yang tak dapat digantikan oleh apa pun juga. Sebuah apresiasi yang dinanti-nantikan manakala si detektif berdecak kagum sekaligus kesal karena tidak menemukan sebuah petunjuk pun. Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Oke, oke, perumpamaan tersebut mungkin terlalu dibesar-besarkan, tapi kurang lebih begitulah perasaanku malam ini. Seperti biasanya, setiap malam aku nongkrong di kafe ini untuk meretas malam—sebuah istilah yang kucuri dari sebuah judul buku karena cocok dengan pekerjaanku sebagai seorang penulis.

Aku tipe penulis yang hanya dapat bekerja pada malam hari ketika semua orang telah tertidur. Aku butuh ketenangan, privasi, dan energi malam yang pekat dan misterius. Di sisi lain, aku butuh sosialiasi. Aku butuh diyakinkan bahwa malam ini—setiap malam—ada orang-orang dengan tipe yang sama seperti diriku yang masih terjaga menanti fajar. Mengorbankan tidur untuk mengerjakan urusan yang dianggap penting dan berarti baginya.

Karena itu, hampir setiap malam semenjak buku pertamaku terbit, aku berada di kafe ini untuk menulis dan mengamati lalu lalang pengunjung serta kesibukan mereka sendiri-sendiri. Ada anak kuliahan dan pekerja kantor yang datang bersama teman atau pacarnya. Ada juga anak-anak muda yang datang sendiri sambil menenteng laptopnya. Beberapa dari mereka mungkin mempunyai bisnis rintisan sendiri, sebagian yang lainnya mungkin juga pekerja kreatif yang sama seperti diriku.

Kebanyakan dari mereka pulang sebelum matahari terbit. Tapi ada juga yang bertahan sampai pagi ketika orang-orang normal lainnya berangkat kerja. Di antara mereka ada seorang gamer yang menarik perhatianku. Entah bagaimana caranya, pemuda berusia dua puluh tahunan itu selalu bisa mendapatkan meja di pojokan yang strategis untuk menyendiri.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved