Cerpen Apendi

Meretas Malam

Sedikit sekali pembunuh di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan detektifnya dan dapat mengamati cara kerjanya.

Meretas Malam
Ilustrasi Meretas Malam 

SEWAKTU sedang asyik mengkhayal dan memikirkan plot novelku, seorang gadis muda yang pernah kulihat sebelumnya masuk dan mengambil tempat di sampingku yang terpisah jarak yang cukup lebar untuk lalu lalang pengunjung yang lewat. Gadis itu mungkin lebih muda dua tahun dariku dan beberapa tahun lebih tua dari si gamer. Setelah menaruh buku-buku kuliah di mejanya, ia pergi sebentar untuk memesan minuman. Sesaat kemudian ia kembali, menaruh tas dan pesanannya, merapikan roknya dan duduk.

Sewaktu ia duduk, aku melirik betisnya sekilas untuk menyegarkan mataku. Lalu setelah itu aku tidak menghiraukannya selama kurang lebih sepuluh menit. Pada saat kupikir aku butuh penyegaran kembali setelah buntu memikirkan skill-skill game yang akan kuciptakan, aku terkejut setengah mati ketika melihat gadis itu sedang membaca bukuku! Ya, buku pertamaku yang sudah sulit ditemukan di toko buku!

Coba bayangkan betapa bahagianya aku! Aku tak pernah melihat gadis itu membaca novel. Ia biasanya sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Membaca novel mungkin adalah suatu kemewahan baginya, yang hanya bisa dilakukannya di waktu luang. Dan ketika memiliki kemewahan itu, ia memlih novelku untuk dibaca.

Novelku!

Dalam sekejap, dirinya menempati posisi yang spesial di mataku. Aku mulai memikirkan cara untuk berkenalan dengannya. Dan, kau tahu, mencari kata-kata yang tepat untuk berkenalan dengan seorang gadis baik itu di fiksi maupun realita sungguh amat melelahkan.

Seperti biasa, ketika pikiranku buntu biasanya aku membiarkan intuisi membimbingku. Tanpa pikir panjang, aku mengambil minumanku dan menghampirinya.

"Hai! Boleh aku duduk sini?" Klise sekali.

Tanpa menunggu jawaban, aku duduk di seberangnya. Mungkin ini terasa kurang sopan, tapi menurutku konyol juga seorang laki-laki menunggu persetujuan dari gadis yang ingin didekatinya.

"A... aku sering melihatmu di sini. Kamu mahasiswi?" (Duh! Basa-basiku benar-benar terdengar palsu.)

Gadis itu melirik buku kuliahnya dan lalu menatapku dengan tajam, "Mau apa kau?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved