Breaking News:

Terorisme

Kapolri Jelaskan Alasan Mengapa di Tahun 2016 Banyak Muncul Kasus Terorisme

"Bukan hanya serangannya, tapi total termasuk yang digagalkan. Banyak yang berhasil digagalkan dengan baik," kata Tito

Editor: Kisdiantoro
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan penetapan gelar perkara kasus Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di ruang rapat utama Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/11/2016). Polri menetapkan Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama murni berdasarkan fakta hukum yang ditemui tim penyelidik. 

JAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan, penanganan kasus terorisme pada 2016 meningkat ketimbang tahun sebelumnya.

Tahun lalu, Polri menangani 82 kasus terorisme. Jumlah itu meningkat hingga 170 kasus pada 2016.

Tito mengakui bahwa peningkatan kasus terorisme cukup signifikan terjadi dalam setahun terakhir.

"Bukan hanya serangannya, tapi total termasuk yang digagalkan. Banyak yang berhasil digagalkan dengan baik," kata Tito di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/12/2016) petang.

Tito mengatakan, tak hanya di Indonesia, gerakan kelompok teroris di dunia juga kian gencar beberapa waktu terakhir.

Hal tersebut dikarenakan dinamika kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tito mengatakan, pada 2015, ISIS masih mengekspansi secara perlahan wilayah di sejumlah negara.

Kemudian, pada 2016, negara-negara besar di barat menekan ISIS hingga terpojok.

"Mereka tidak bisa bergerak dan jumlahnya semakin mengecil," kata Tito.

Oleh karena itu, untuk mengalihkan perhatian dari posisi mereka yang semakin tersudut, ISIS mengontrol jaringan teroris di luarSuriah dan Irak.

"Jaringan luar negeri disuruh bergerak karena instruksi dari ISIS pusat," kata Tito.

Selain memberantas sel-sel kecil dari jaringan teroris Polri juga mencegah warga negara Indonesia berangkat ke Suriah untuk berbaiat kepada ISIS.

Pada tahun ini, terungkap beberapa kelompok yang tugasnya merekrut WNI maupun warga negara asing yang diselundupkan ke Indonesia untuk diberangkatkan ke Suriah.

Pemerintah Indonesia menjalin hubungan dengan intelijen Turkiuntuk mencegah masuknya WNI ke Suriah.

"Kerja sama dengan Turki cukup baik. Dari jaringan intelijen mereka melakukan penangkapan dan dideportasi," kata Tito.  (Kompas.com)

Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved