Cerpen Yus R Ismail

Anak Kucing Kelimis Menggigil Kedinginan

Sepanjang jalan gelap pekat. Jadi, terpaksa saya harus menarik gas lebih kencang dari biasa. Takut ada geng motor yang sering kelayapan tengah malam.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Anak Kucing Kelimis Menggigil Kedinginan 

"Tidak mungkin. Kucing itu makan tikus. Bukan dimakan tikus."

"Tapi anak kucing itu, kan, masih kecil. Sedangkan tikus got itu besar-besar."

"Siapa tahu anak kucing itu dibawa induknya. Anak kucing itu digigit tengkuknya, lalu dibawa pindah entah ke mana."

"Tapi induk kucing seringkali tidak mau memindahkan anak kucing yang kelimis basah menggigil kedinginan. Induk kucing hanya mau memindahkan anak-anak kucing yang sehat."

"Kata siapa?"

"Kata Nisa, sepertinya seperti itu."

Saya menyesal mengapa tidak pernah mau membaca sedikit literatur tentang kucing. Jadi, saya bisa memaksakan pendapat dengan berdasar buku atau laporan ilmiah.

**

SEMINGGU kemudian ibu Anisa pulang dari rumah sakit. Saya kembali meneruskan membaca-baca buku bahan skripsi yang sempat tertunda. Hari Sabtu saya menghubungi Anisa, mengajaknya nonton film. Sore itu saya menjemput Anisa. Tidak lupa saya membawa anak kucing pemberian tetangga. Anak kucing yang lucu dan suara mengeongnya yang manja.

Anisa awalnya menyambut anak kucing itu dengan gembira. Anak kucing itu ditimangnya, diusap-usap bulunya, disentuh-sentuh kumisnya. Tapi kemudian anak kucing itu diberikannya lagi kepada saya.

"Kenapa? Anak kucing ini, kan, lebih lucu, sehat, dan suara meongnya begitu jelas."

"Tapi Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu."

"Kucing itu mungkin bisu."

"Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan dan bisu."

Saya memandang Anisa lekat-lekat. Anisa memegang tangan saya. "Maaf, ya," katanya pelan.

"Tidak apa. Ayo, kita ke bioskop sekarang. Anak kucing ini kita kembalikan lagi ke tetangga saya."

Hari Sabtu penonton bioskop seringkali lebih banyak dibanding hari biasa. Apalagi filmnya yang sering dipromosikan sejak jauh-jauh hari. Kami duduk di bangku paling belakang. Dua kap popcorn dan dua botol air mineral menemani nonton kami. Tapi biji-biji popcorn itu berhenti masuk mulut ketika film sudah diputar setengahnya. Konflik cerita makin memuncak. Tokoh utamanya makin diharu-biru peristiwa-peristiwa tragis menyedihkan. Para penonton diam. Mungkin menahan napas. Mungkin menahan tangis.

Tapi saya mendengar suara tangis itu. Semakin jelas. Waktu saya tengok Anisa, dari ujung matanya mengalir butiran air.

"Jangan terlalu dimasukkan ke hati," bisik saya.

Suara tangis itu masih terdengar.

"Ini, kan, hanya sebuah film."

Suara tangis itu masih terdengar.

"Film itu fiksi, bohong."

Suara tangis itu masih terdengar.

"Film itu...."

"Nisa bukan nangis karena film."

Saya memandang Anisa lekat-lekat. Saya usap butiran air yang mengalir di pipi itu.

"Nisa teringat anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu."

Saya terpana memandang Anisa.

"Sementara kita bersenang-senang nonton film, anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu mungkin sudah dimakan tikus. Mungkin dibawa ke dalam got. Mungkin awalnya dia mengeong kesakitan. Mungkin...."

Saya memeluk Anisa. Jemarinya saya genggam erat sekali. Jujur harus saya katakan, saya mencintai Anisa karena perasaannya itu. Saya suka wanita yang perasa. Tiba-tiba lampu bioskop menyala. Film sudah selesai. Anisa cepat membersihkan wajahnya dengan kertas tisu. Hampir semua penonton wanita ternyata mengelap wajahnya dengan kertas tisu.

Kami keluar bioskop paling belakang. Saya menggenggam tangan Anisa. Sesekali saya berbisik di telinganya.

"Orang mengira kamu menangis karena film. Padahal kamu menangis karena anak kucing kelimis menggigil kedinginan. Dan saya semakin mencintaimu karena itu," bisik saya.

Di pintu bioskop saya menghentikan langkah. Teman-teman saya rupanya mau nonton bareng. Seto, Amanda, Rido, Dini, Alex, Ni Luh, Irwan, Nadia, Hendi, Via, Romi, Rianti, Banu, Niken.

"Ketahuan, ya, nonton duluan," kata Seto. "Dari dulu nonton sendiri aja. Bawa pacar dong, atau bareng-bareng kaya kita."

Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Tangan saya yang memegang kap popcorn terasa pegal.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved