Herky Si Tulang Punggung

HERCULES dalam mitos Yunani adalah anak Dewa Zeus dan Alkmene. Hercules adalah sosok pria kuat perkasa yang selalu membantu masyarakat

Herky Si Tulang Punggung
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Adityas Annas Azhar, Wartawan Tribun

HERCULES dalam mitos Yunani adalah anak Dewa Zeus dan Alkmene. Hercules adalah sosok pria kuat perkasa yang selalu membantu masyarakat Yunani menghadapi kesulitan akibat gangguan monster ataupun ulah penguasa yang zalim. Oleh produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat, Lockheed, nama Hercules disematkan untuk pesawat angkut berat yang diproduksi pertama kali tahun 1954. Pesawat ini pertama kali diproduksi di pabrik Lockheed di Burbank, California. Oleh para pilot dan penggemar pesawat, Hercules dijuluki Herky.

Hercules secara standar mampu mengangkut 20 ton barang dan 92 orang. Pesawat angkut multifungsi ini juga mampu terbang dan mendarat di landasan pendek. Sesuatu yang sangat dibutuhkan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Adalah Presiden Soekarno yang berjasa menghadirkan Hercules ke negeri ini. Soekarno menggunakan diplomasi tingkat tinggi untuk "menggertak" Amerika Serikat (AS) mendapatkan Herky. Hal ini sebenarnya akibat ulah AS yang pada 1958 secara tidak langsung mendukung pemberontak Permesta di Sulawesi. Namun AS gagal lantaran saat itu AURI berhasil menembak jatuh pesawat tempur Permesta yang dipiloti agen CIA, Allen Pope. Sang pilot, Pope, selamat tapi ditangkap. Pope pun divonis hukuman mati. Tapi hukuman mati itu tidak dilaksanakan atas perintah Soekarno. Sebagai imbalan bebasnya Pope, RI menerima 10 Hercules C-130 B dari AS.

Masuknya jajaran Herky ini membuat Indonesia menjadi pengguna pertama C-130 B di luar AS pada 1960. Kesepuluh C-130 B (termasuk dua varian tanker KC 130B) ini menjadi embrio lahirnya skuadron angkut berat TNI AU. Ke-10 Hercules itu melengkapi kekuatan AURI yang sebelumnya sudah memiliki sejumlah pesawat angkut buatan Rusia seperti Antonov dan beberapa pesawat angkut sisa perang dunia II, seperti C-47 Dakota.

Saat ini hampir semua angkatan udara di dunia memiliki Herky. Sudah tidak terhitung jasa Herky dalam operasi militer atau kemanusiaan. Pesawat itu mengangkut para pengungsi korban banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, perang saudara, termasuk mengangkut berbagai jenis logistik bagi yang tinggal di daerah terisolasi. Sejumlah operasi militer penyelamatan sandera yang dramatis juga menggunakan pesawat ini. Salah satu operasi penyelamatan dramatis menggunakan Herky adalah mengangkut 452 orang dari Saigon, Vietnam (Selatan), April 1975, sebelum Saigon jatuh ke tangan Vietcong.

Di Indonesia, Herky punya dua sisi, yaitu pesawat yang amat berjasa, tapi juga tragedi. Sejak 1964 setidaknya sudah sembilan kali Herky jatuh. Jumlah penumpang tewas akibat jatuhnya Herky (termasuk di Wamena, Minggu, 18/12) mencapai 334 orang, sebagian besar personel TNI.

Seperti diberitakan Tribun kemarin, Hercules C-130 HS nomor A-1334 adalah hibah dari Royal Australian Air Force (RAAF). Pesawat itu sudah berusia 64 tahun, tapi diperbarui di Australia pada 2015. TNI AU memang menerima hibah empat C-130 bekas pakai RAAF, kemudian membeli lagi lima pesawat bekas RAAF.

Jatuhnya Hercules yang kesekian kalinya itu harus jadi pelajaran bagi negeri ini bahwa modernisasi pesawat angkut berat multifungsi adalah keharusan. Artinya, jika PT Dirgantara Indonesia belum mampu memproduksi pesawat angkut berat, seharusnya segera mencari ke negara lain yang mampu menyediakan sejenis Herky yang dapat menjadi tulang punggung transportasi logistik dan personel di negeri kepulauan ini. (*)

Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved