Breaking News:

Cerpen Endah Sulwesi

Kain-Kain Ibu

Aku tahu persis, kain berwarna merah-biru itu adalah kain kesayangan Ibu. Aku melihat sebersit kerinduan di matanya. Entah rindu kepada siapa.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Kain-Kain Ibu 

Aku dan Ibu tertawa bersama.

"Kalau nanti mereka masuk Islam, mungkin akan pakai gamis dan jilbab juga, Bu." Kami pun tertawa lagi.

Tapi Ibu benar. Saat ini semakin banyak wanita yang bergamis dan berjilbab atau sekarang populer dengan sebutan hijab. Di mana-mana. Termasuk kedua adikku dan teman-teman di kantorku. Juga para istri pejabat dan para koruptor. Dari remaja hingga nenek-nenek renta. Bahkan bayi-bayi. Di kota besar, kota sedang, kota kecil, hingga di kampung-kampung.

**

KUELUS lembut punggung tangannya yang keriput dengan perasaan kasih yang mendadak berlimpah. Pembicaraan mengenai kematian seperti merencanakan sebuah kehilangan.

"Ibu kok ngomong gitu?" Akhirnya aku memecah kebisuan di antara kami.

"Loh, Ibu kan sudah tua."

"Iya, tapi nggak usahlah ngomong begitu."

"Memang kenapa? Ibu kan cuma pesan, mumpung ingat."

Aku tak menyahut. Ada-ada saja sih Ibu. Aku sungguh tidak bahagia mendengarnya.

"Gimana kalau ternyata aku yang meninggal duluan?" sahutku menggoda Ibu.

Ibu tertawa kecil. Lalu katanya, "Ya, kamu juga akan Ibu rurub pakai kain ini."

Lalu Ibu melilitkan kain mega mendung itu di sekujur pinggangnya yang masih seramping dulu. Ia mematut diri di cermin, kemudian melepas gamis, menukarnya dengan kebaya kutubaru bunga-bunga merah. Seketika aku merasakan kehadiran Ibu yang dahulu.

"Neng, bagaimana kalau Ibu pakai kain lagi seperti dulu?" Ibu menatapku sambil tersenyum.

Aku cuma bisa tertegun.

***

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved