Breaking News:

Cerpen Endah Sulwesi

Kain-Kain Ibu

Aku tahu persis, kain berwarna merah-biru itu adalah kain kesayangan Ibu. Aku melihat sebersit kerinduan di matanya. Entah rindu kepada siapa.

Ilustrasi Kain-Kain Ibu 

Ibu tersenyum.

Maka kemudian, satu per satu kain Ibu berganti pemilik. Demikian pula para kebaya. Ibu memberikan mereka kepada saudara-saudaranya di kampung di Majalengka. Orang tua Ibu asli Sunda, tetapi Ibu lahir dan besar di Jakarta.

Perlahan-lahan tumpukan kain Ibu di lemari kian menipis. Akhirnya, yang tersisa hanya enam lembar, termasuk si mega mendung bang-biron.

Selain karena dibagikan ke kerabat, berkurangnya jumlah kain Ibu juga karena banyak yang tidak dikembalikan para peminjamnya. Ibu sering meminjamkan kain-kainnya untuk berbagai keperluan, terutama sebagai rurub atau penutup jenazah. Entah sudah berapa jenazah yang memakai kain Ibu. Keluarga dekat, keluarga jauh, teman, tetangga. Dan tentu saja jenazah Ayah lima tahun silam.

Bukan hanya sebagai penutup jenazah, kain Ibu kerap dipinjam untuk wisuda, Hari Kartini, atau karnaval tujuh belas Agustusan. Aku pun menggunakan kain Ibu di hari wisuda dan pernikahanku. Begitu juga adik-adikku. Untuk peristiwa-peristiwa istimewa itu, Ibu merelakan atau lebih tepatnya mewajibkan kami mengenakan mega mendung kesayangannya.

Setiap kain-kain itu selesai dipakai, Ibu akan mencucinya dengan lerak. Ia menjemur kain-kain itu di sebatang bambu tanpa memerasnya lebih dahulu. Ia sengaja menjemur kain-kainnya di tempat yang teduh agar kain-kain itu tidak terkena sinar matahari langsung. "Biar awet warnanya," kata Ibu.

Setelah kain-kain itu kering sempurna, ia melipatnya sedemikian rupa. Untuk kain-kain tertentu, Ibu meratusnya dahulu sebelum dilipat agar kain itu harum. Ibu hampir tidak pernah menyetrika kain-kain batiknya, kecuali yang benar-benar kusut dan sulit dirapikan dengan tangan. Menyetrikanya pun tidak seperti menyetrika pakaian biasa. Ibu akan melapisi kain batik yang disetrikanya dengan sehelai bahan tipis. Jadi, kain batik itu tidak langsung terkena panas setrikaan. Berikutnya, setelah terlipat rapi, kain-kain itu dimasukkan ke kotak plastik bening dan disimpan di lemari. Sesekali Ibu juga meletakkan sejumput merica yang dibungkus saputangan di tempat batik-batik itu disimpan. Kata Ibu agar tidak dimakan ngengat, rayap, atau serangga lainnya. Ibu melakukan semua itu sendiri.

Tetapi itu dulu, ketika Ibu masih berkain kebaya setiap hari. Ketika kain-kainnya masih selemari.

Kini, Ibu tidak pernah lagi membeli kain panjang batik. Apalagi setelah ia menetapkan gamis dan jilbab sebagai busananya, untuk sehari-hari dan di setiap kesempatan.

"Sekarang hampir semua teman Ibu pakai gamis dan jilbab," ujar Ibu, "kecuali Bu Sibarani dan Bu Simorangkir."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved