Breaking News:

Cerpen Endah Sulwesi

Kain-Kain Ibu

Aku tahu persis, kain berwarna merah-biru itu adalah kain kesayangan Ibu. Aku melihat sebersit kerinduan di matanya. Entah rindu kepada siapa.

Ilustrasi Kain-Kain Ibu 

Sanggul ban vespa itu adalah pelengkap kain dan kebaya yang dikenakannya. Untuk acara-acara resmi Ibu akan memakai kain batik yang diwiron tujuh lipat. Lipatan tepi kain itu akan mengembang serupa kipas setiap kali Ibu melangkah. Aku suka sekali melihat "kipas" itu membuka dan menutup seirama langkah kaki Ibu. Dan Ibu menyempurnakan penampilannya dengan sehelai selendang panjang polos yang ia sampirkan di bahu. Kadang di kanan, kadang di kiri. Juga sebuah tas tangan kecil dari kulit imitasi made in Garut. Oya, tentu dengan sepasang selop di kakinya. Sesekali, Ibu suka juga "memamerkan" perhiasan emas miliknya di leher, telinga, pergelangan tangan, dan jari-jari.

Ibu nyaris tak pernah memakai riasan muka. Mungkin karena ia ibu rumah tangga yang lebih banyak di rumah. Biasanya, Ibu hanya memulas wajah dengan bedak, tipis-tipis, sehabis mandi. Pagi dan petang. Atau seusai sembahyang. Ibu baru akan agak serius merias wajahnya jika hendak pergi kondangan. Serius itu artinya Ibu memakai gincu merah bata dan sedikit pemerah pipi.

Alisnya yang juga lebat dan sehitam rambutnya tak pernah dicukur atau diubah bentuknya. Sepasang alis itu melengkung alamiah hampir separuh lingkaran, menaungi matanya yang besar. Dari ketiga putrinya, hanya aku yang mendapat warisan alis dan mata belok itu. Kata orang, aku yang paling mirip Ibu. Adikku yang pertama sangat mirip Ayah, sedangkan yang bungsu mirip Nini Cirebon.

Seingatku, saat itu tak banyak perempuan yang berbusana seperti Ibu. Para ibu tetangga kami kebanyakan memakai gaun atau celana panjang sebagai busana sehari-hari. Rambut mereka dipotong pendek atau dikeriting. Ada juga beberapa yang panjang terurai seperti kakak sepupuku yang tinggal tak jauh dari rumah kami. Tapi aku yakin, rambut Ibu pasti yang paling panjang di kelurahan kami. Atau malah mungkin paling panjang sekecamatan.

Ibu memiliki banyak kain batik di lemarinya. Kain-kain batik itu kebanyakan ia beli dari Yu Simpen, tukang jamu gendong langganan Ibu. Setiap habis pulang kampung, Yu Simpen selalu membawa beberapa lembar kain batik baru yang ia tawarkan kepada para pelanggan jamunya, termasuk Ibu. Menurut cerita Ibu, kain-kain itu dibatik sendiri oleh ibu Yu Simpen. Kadang-kadang kalau lagi tak ada uang, Ibu membelinya dengan cara mencicil atau kredit. Yu Simpen juga berkain kebaya dan berkonde seperti Ibu. Mungkin mereka pun seusia dan sudah lama Yu Simpen pensiun sebagai bakul jamu. Kami tak pernah mendengar kabarnya lagi. Mungkin kembali ke kampungnya di Sragen. Penggantinya adalah Mbak Narsih. Dia menjajakan jamunya menggunakan sepeda. Dan dia tidak berkain kebaya.

Bertahun-tahun Ibu tetap setia berkain kebaya dan kondean. Waktu aku masih kanak-kanak, dengan mata kanak-kanakku, Ibu terlihat cantik saja berbusana demikian. Aku tidak keberatan. Namun, ketika aku beranjak remaja, diam-diam aku menyimpan secuil rasa malu karena cara berpakaian Ibu. Di tengah ibu-ibu kawanku yang berbusana dan berdandan modern, dengan kain kebaya dan sanggulnya Ibu kelihatan sangat ndeso. Tapi tentu saja aku tidak tega menyampaikan perasaanku itu kepada Ibu. Aku takut Ibu tersinggung. Lagi pula tampaknya Ayah tidak merasa terganggu oleh penampilan Ibu itu. Begitu juga kedua adik perempuanku.

Namun, beberapa tahun kemudian, pada suatu pagi aku terkejut mendapati Ibu dengan penampilan baru. Dia mengubah busananya dengan rok sepanjang mata kaki dan tunik. Meskipun masih berkonde, dengan dandanan barunya itu Ibu tampak sangat berbeda.

"Ayah yang suruh," ujar Ibu saat melihatku menatapnya heran. "Biar lebih praktis. Lagian, kebaya sudah nggak zaman lagi."

Sudah pasti aku senang sekali dengan gaya baru Ibu.

"Kenapa nggak dari dulu, Bu?" kataku sambil mengacungkan jempol.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved