Minggu, 24 Mei 2026

Apa Itu Haiku

Bagi sebagian orang mungkin sudah mendengar tentang Haiku, tapi masih cukup banyak juga yang belum tahu apa itu Haiku.

Tayang:
Penulis: Siti Fatimah | Editor: Ferri Amiril Mukminin
tribunjabar/siti fatimah
Ibu sebagai mata air kasih sayang, juga memiliki peranan sebagai tiang negara. Ibu adalah peletak dasar lahirnya generasi penerus bangsa 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Bagi sebagian orang mungkin sudah mendengar tentang Haiku, tapi masih cukup banyak juga yang belum tahu apa itu Haiku.

Haiku merupakan sastra asli Jepang. Di Indonesia, sastra ini mulai digemari , salah satu alasannya karena keunikannya.

Presiden HaikuKu Indonesia, Diro Aritonang mengatakan, Haiku adalah puisi singkat atau pendek yang menggunakan bahasa sensorik untuk menangkap perasaan atau gambar tentang alam dan kehidupan. Sastra ini .erupakan revisi akhir abad ke-19 oleh Masaoka Shiki dari jenis puisi hokku yang lebih tua.

"Ada tiga prinsip kaidah-kaidah dalam haiku yang telah menjadi pakem yakni
bentuk terikat yang memiliki 17 suku kata, terbagi dalam 3 baris terdiri dari 5-7-5 suku kata, unit bunyi atau morae," kata Diro di Gedung Indonesia Menggugat, Sabtu (17/12/2016).

Menurutnya, dalam ayatnya haiku harus berisi Kigo (referensi musim) atau penanda waktu. Kigo adalah bagian dari haiku yang tidak bisa dilepaskan begitu saja, dalam artian Kigo merupakan salah satu prasyarat dalam membuat Haiku. Kigo dapat diartikan sebagai penanda musim atau penanda waktu, dapat didefinisikan sebagai sebuah kata atau frase kunci yang melambangkan atau menyiratkan musim dan waktu.

Dalam haiku harus memiliki kireji, atau memotong kata atau frase, yang membantu menentukan ide-ide dalam hubungan satu sama lain. Kireji biasanya muncul pada akhir salah satu frase suara. Di samping tiga prinsip itu, haiku tidak memiliki rima/persajakan (rhyme). Haiku "melukis" imaji ke benak pembaca.

"Tantangan dalam menulis haiku adalah bagaimana mengirim telepati pesan atau kesan dan imaji ke dalam benak pembaca, juga tidak menggunakan judul seperti menulis puisi," katanya.

Sekilas mengutil sejarah Haiku, sastra ini mulai muncul dalam kesusasteraan Jepang pada tahun 1662. Seorang pakar haiku yang terkemuka pada masa itu ialah Matsuo Basho (1644-1694) yang mulai menulis haikunya ketika berumur 18 tahun. Selain Basho muncul pula nama besar lainnya seperti Onitsura (1661–1738), Yosa Buson (1716–1783), Kobayashi Issa (1763–1827). Haiku menjadi besar setelah Masaoka Shiki melakukan revisi di akhir abad ke-19 dari jenis puisi hokku yang lebih tua yang dirintis Matsuo Basho menjadi haiku.

"Haiku dapat kita artikan sebagai pembebasan Hokku dari rantai Haikai. Haiku bisa berdiri sendiri, sudah utuh pada dirinya tanpa tergantung pada rantai sajak yang lebih panjang," katanya.

Di Indonesia, Haiku mulai digemari bahkan kini ada Grup haikuKu yang merupakan grup komunitas HaikuKu Indonesia dibawah Yayasan Mutuara Qolbi. Ini dalah grup yang mengembangkan kehidupan sastra di Indonesia, khususnya mengambil format haiku . Meski Haiku adalah sastra asli dari Jepang, namun tetap berkarakteristik keindonesiaan, dengan mengangkat nilai-nilai dan kearifan budaya daerah di Indonesia.

Munculnya grup haikuKu Indonesia, pada 7 Nopember 2014, haiku mulai terasa kehadirannya. Kemunculan grup haikuKu yang anggotanya di seluruh Indonesia dan luar negeri mencapai 12.000 anggita ini menjadi fenomena menarik.
Sejak kemunculannya, kini mulai tumbuh menjamur grup-grup haiku lainnya, dan nampak mencari bentuk lain, yang tidak mau terikat pada pakem tradisi aslinya. Sedang haikuKu akan konsisten terhadap bentuk apa yang dinamakan haiku, baik dari bentuk puitik, pola patronya 17 suku kata (5-7-5), maupun hakikat haiku itu sebenarnya, yang meliputi kigo (referensi musim dan penandaan waktu) dan kireji (pemotongan) yang membedakan dengan bentuk puisi pada umumnya.

Grup haikuKu ini bisa dikatakan sebagai grup yang konservatif yang menegaskan sebagai salah satu bentuk haiku Indonesia yang sebenarnya, tanpa mencederai (merusak) haiku aslinya dengan model pembaharuan yang diharapkan. "Walau haiku berasal dari tradisi sastra Jepang, namun haikuKu mendorong para anggotanya agar tetap akan membuahkan haiku yang mengakar pada nilai-nilai seni, rasa bahasa, tradisi, budaya dan alam Indonesia, serta kearifan lokal daerah-daerah di Indonesia," kata Diro. (tif)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved