2017, Optimistis Bakal Lebih Baik

SEJUMLAH peristiwa menjelang akhir tahun 2016, seperti tanah longsor dan banjir, terjadi di Jawa Barat, jadi bahan refleksi penting untuk memasuki tah

2017, Optimistis Bakal Lebih Baik
TRIBUN JABAR
Tatang Suherman, Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

SEJUMLAH peristiwa menjelang akhir tahun 2016, seperti tanah longsor dan banjir, terjadi di Jawa Barat, jadi bahan refleksi penting untuk memasuki tahun 2017.

Berbagai musibah, seperti tragedi tanah longsor di berbagai daerah di Jawa Barat dan yang paling sulit dilupakan adalah musibah banjir bandang di Kota Garut yang menewaskan puluhan orang dan mematikan perekonomian kota.
Di tingkat nasional, baru saja kita dihadapkan pada peristiwa gempa hebat yang menimpa saudara kita di Aceh. Puluhan korban jiwa, ratusan bahkan ribuan bangunan hancur akibat gempa berskala richter di atas 6. Ribuan orang masih dalam kondisi mengenaskan di pengungsian.

Peristiwa ini diangkat sebagai sebagian potret suram menjelang memasuki tahun 2017. Tentu bukan untuk diratapi melainkan dijadikan sebagai pelajaran agar lebih siap menghadapi musibah serupa dengan cara mengantisipasi sedini mungkin.

Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam yang ada di setiap daerah perlu disiapkan sejak sekarang. Lembaga-lembaga serta organisasi yang terkait dengan masalah bencana, misalnya PMI, serta masyarakat yang peduli, sebaiknya juga mulai disiagakan. Di samping itu, kecermatan membaca tanda-tanda atau gejala bencana alam bakal muncul pun harus ditingkatkan. Begitu tanda atau gejala itu muncul, segera ambil tindakan, yakni evakuasi untuk meminimalisasi korban.

Di luar itu, menghadapi tahun tahun 2017 sebenarnya kita patut optimistis bakal menorehkan catatan perubahan ke depan. Di luar masalah musibah yang dihadapi sebagian warga Jawa Barat dan saudara sudara kita di luar Jawa Barat, cakrawala tahun 2017 tidak hanya akan menghadirkan peluang yang menawarkan kecerahan, tetapi juga tantangan.
Tentu saja pergerakan waktu dari tahun 2016 ke tahun 2017 harus membuahkan terobosan baru, jangan hanya sekadar sirkulasi waktu yang bersifat rutin, sekadar siang berganti malam atau sebaliknya, tetapi membawa perubahan.

Pergantian tahun harus menghasilkan makna, tidak sekadar hanya sebagai pergeseran penanggalan saja, tanpa diisi tindakan nyata yang membawa perbaikan.

Waktu begitu penting sampai muncul istilah tempus est pecunia (waktu adalah uang).

Berbagai kebiasaan buruk yang mengundang kerugian di tahun 2016 hendaknya ditinggalkan apabila kita ingin memaknai pergantian tahun secara lebih baik.

Dengan menghitung kekurangan dan kelemahan diri kita masing-masing untuk kemudian kita bisa perbaiki pada tahun berikutnya. Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki potensi ke depan lebih baik, tentu kita harus berkejaran dengan waktu dalam mengejar pembangunan dan kemajuan. Kita harus berbenah diri, menggunakan peluang, melakukan terobosan dalam banyak hal.

Kita bisa menyiapkan diri untuk menjalani 2017 dengan lebih bermanfaat bagi semesta. Karena, tujuan hidup yang paling mulia untuk dijalani adalah memberikan manfaat seluas- luasnya bagi kehidupan. ***

Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved