Sorot

Wanita Pengantin Bom

TEROR bom yang berhasil diantisipasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Sabtu (11/12), dinilai pengamat terorisme sebagai munculnya . . .

Wanita Pengantin Bom
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar

TEROR bom yang berhasil diantisipasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Sabtu (11/12), dinilai pengamat terorisme sebagai munculnya babak baru strategi teror di Indonesia. Terungkapnya calon pelaku aksi bom bunuh diri, seorang wanita, merupakan temuan baru dalam sejarah aksi teror Tanah Air.

Wikipedia menjelaskan aksi teror selama 2016, di antaranya teror bom dan bakutembak, di Jakarta, 14 Januari 2016, bom bunuh diri di halaman Markas Kepolisian Resor Kota Surakarta, Surakarta, Jawa Tengah, 5 Juli 2016, ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Kota Medan, Sumatera Utara, 28 Agustus 2016, bom molotov di depan Gereja Oikumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 13 November 2016, dan bom molotov meledak di Vihara Budi Dharma, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, 14 November 2016.

Terbaru adalah penggagalan aksi teror yang dilakukan Polri. Tim Densus 88 antiteror Polri menangkap empat orang terduga pelaku teror yaitu MNS, AS, DYN, dan S. Keempat tersangka itu adalah jaringan kelompok Jamaah Anshorud Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN) yang terafiliasi dengan Bahrun Naim. Dari keempat tersangka tersebut, ada seorang wanita dengan inisial DYN yang perannya sebagai eksekutor bom bunuh diri.

Selama ini, eksekutor atau sering diistilahkan "pengantin" biasanya dilakukan laki-laki. "Ini benar-benar baru di Indonesia. Peran wanita biasanya hanya menyiapkan kebutuhan di belakang layar, misalnya menyiapkan dukungan logistik, bukan sebagai penyerang," ujar peneliti terorisme Universitas Indonesia (UI) yang juga alumni S2 Kajian Intelijen UI, Ridlwan Habib, seperti dikutip Tribunnews.com, di Jakarta, Minggu (11/12).

Temuan baru itu jelas harus menjadi bahan kajian bagi aparat keamanan dan masyarakat. Selain masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan di lingkungannya masing-masing, pemerintah khsusunya aparat keamanan perlu meningkatkan upaya dalam mengantisipasinya. Ridlwan kepada Tribunnews.com menyebutkan perlu memperbanyak petugas intelijen wanita yang bisa masuk dan menyusup ke jejaring kelompok itu atau melakukan pendekatan lain, yakni menggunakan alat deteksi.

Munculnya temuan baru juga membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) prihatin. Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis, kepada Tribunnews.com mengatakan menjadikan perempuan sebagai "pengantin" aksi teror merupakan perkembangan baru yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena tindakan bom bunuh diri untuk membunuh sesama juga tidak pernah diajarkan dalam Islam. Selain menentang tindakan terorisme yang mengajak kaum hawa, MUI juga mendorong pemerintah dan tokoh agama mengembalikan kebenaran ajaran Islam yang diplintir oleh pelaku terorisme.

Temuan baru dalam strategi terorisme ini tentu harus disikapi dengan cara meningkatkan kewaspadaan. Mulai dari masyarakat dalam mengenali tetangga terdekat, ketua RT dalam mendata warga baru, pemilik indekos dan rumah kontrakan harus memiliki data pengontrak, hingga aparat keamanan harus meningkatkan strategi sesuai penjelasan peneliti terorisme, Ridlwan. Para tokoh agama sesuai yang dikatakan KH Cholil Nafis, harus giat memberikan kontraterorisme kepada umat jika terjadi hal yang mengarah tindakan teroris dan menyebarnya paham radikalisme di lingkungannya. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di Koran Tribun Jabar, edisi Senin (12/12/2016).

Penulis: Dedy Herdiana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved