Rabu, 15 April 2026

Stop Korupsi Sejak Dini, Ratusan Pelajar di Bandung Rangkai Akar dari Kain Bekas

Nantinya rajutan kain yang digambarkan akar pohon harapan itu akan ditampilkan dalam teater musikal raksasa di Jakarta.

Penulis: cis | Editor: Ferri Amiril Mukminin
tribunjabar/teuku muhamad guci
Sebanyak 250 siswa SMP Salman Al Faris Bandung memperingat hari antikorupsi , Jumat (9/12/2016). Mereka mengikuti workshop bunyi dan pohon harapan yang digelar KPK bekerjasama dengan Jendela Ide. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Sebanyak 250 siswa SMP Salman Al Farisi Bandung memperingati hari antikorupsi yang jatuh tepat pada hari ini. Mereka mengikuti workshop bunyi dan pohon harapan yang digelar KPK bekerjasama dengan Jendela Ide.

Sebagian siswa SMP Salman Alfarisi mendengarkan bunyi dan suara melalui audio yang disetel panitia. Melalui audio itu, siswa bisa memahami nilai-nilai integritas tanpa harus melhat.

Adapun sebagian siswa lainnya membuat akar dari rajutan beberapa potongan kain yang tak terpakai. Setiap siswa menulis harapan Indonesia ke depan di sepotong kain yang dirajut hingga menyerupai akar.

Nantinya rajutan kain yang digambarkan akar pohon harapan itu akan ditampilkan dalam teater musikal raksasa di Jakarta.

Workshop itu merupakan rangkaian sosialiasi nilai integritas Teater Musikal Raksasa. Adanya kegiatan itu diharapkan mengenalkan 10 nilai integritas kepada pelajar khususnya siswa SMP Salman Alfarisi.

"Anak-anak diharapkan bisa memahami, menghayati, mengaplikasikan, dan menyebarkan 10 nilai integritas sejak dini. Selaiin itu, anak-anak bisa berperan dalam mengoreksi kondisi dalam kehidupan sehari-hari," kata pegiat antiikorupsi dari Indonesa Corruption Watch, Sely Martini, di SMP Salman Alfarisi, Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung, Jumat (9/12/2016).

Dikatakan Sely Martini, seperti diketahui banyak kasus korupsi melibatkan keluarga akhir-akhir ini. Terakhir, KPK mencokok Wali Kota Cimahi non aktif, Atty Suharty dan suaminya, Itoch Tohija. Hal itu menunjukkan ada yang salah dalam memahami nilai-nilai kejujuran dalam sebuah keluarga.

"Selama ini tidak ada alat untuk mengajarkan nilai jujur dan berani dalam keluarga," kata Sely.

Berdasarkan kasus itu, kata Sely, upaya pemberantasan korupsi di Indonesia tak dapat lagi dilakukan dengan cara yang biasa. Menurutnya, upaya pemberantasan korupsi perlu dilakukan cara-cara yang tidak biasa. Apalagi KPK tidak dapat melakukannya sendiri.

"Pendidikan antikorupsi pada anak dan remaja bisa dilakukan dengan pendekatan seni dan imajinatif, ceria, dan bersifat partisipatif agar lebih mudah dipahami," kata Sely. (cis)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved