Jangan Mau Dibombardir 7 Hari 7 Malam Lagi

HATI terasa plong saat jam dinding menunjukkan pukul 21.30, bersamaan dengan wasit asal Tiongkok, Fu Ming, meniup peluit panjang.

Jangan Mau Dibombardir 7 Hari 7 Malam Lagi
dok. pribadi / facebook
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

HATI terasa plong saat jam dinding menunjukkan pukul 21.30, bersamaan dengan wasit asal Tiongkok, Fu Ming, meniup peluit panjang. Itulah akhir dari serangan "tujuh hari tujuh malam" timnas Vietnam ke daerah pertahanan Indonesia, Rabu (10/12) malam. Skor 2-2 membawa Indonesia lolos ke partai final Piala AFF 2016.

Selang semenit pascapertandingan, kalimat "serangan tujuh hari tujuh malam" booming di dunia maya. Adalah komentator pertandingan Vietnam kontra Indonesia, Hadi Gunawan, yang melontarkan istilah tersebut untuk menggambarkan bagaimana gawang Indonesia dibombardir terus menerus oleh pemain Vietnam tanpa henti.
Indonesia hanya sekali-kali melancarkan serangan dan alhamdulillah, dari serangan yang sangat minim tersebut, bisa menceploskan bola ke gawang tuan rumah lewat sontekan Stefano Lilipaly menit 54.

Jantung dibikin berdegup kencang karena setelah unggul 1-0, di sisa 10 menit terakhir, dengan kekuatan 10 pemain tanpa kiper asli, Vietnam dengan semangat juang tinggi bisa membalikkan skor lewat gol Van Thanh Vu menit 83 dan Minh Tuan Vu menit 90. Skor 2-1 di waktu normal membuat pertandingan diselesaikan lewat extra time. Beruntung Indonesia dapat penalti yang sukses dieksekusi oleh Matahati Lestusen menit 98.

Di sisa waktu itulah, Indonesia digempur habis-habisan. Tak salah jika komentator melontarkan istilah serangan tujuh hari tujuh malam. Sampai-sampai kiper "bohongan" Vietnam pun naik hingga ke jantung pertahanan Indonesia (meniru strategi powerplay di futsal). Situs resmi AFF mencatat ball possession Vietnam di laga itu 80 banding 20 persen.
Dan Thailand yang akan jadi lawan Indonesia di partai final setelah sukses mencukur Myanmar dengan skor 4-0 (aggregat 6-0), Kamis (8/12) malam. Di Leg pertama yang akan dihelat pada 14 Desember, Indonesia akan menjadi tuan rumah terlebih dulu, tiga hari setelah itu, Thailand jadi tuan rumah.

Dari segi kekuatan, Thailand jauh lebih kuat dari Vietnam, apalagi pemain mereka sudah digodok secara mental dan skil di kualifikasi Piala Dunia 2018. Artinya, determinasi tim berjuluk Gajah Putih itu ke jantung pertahanan Indonesia akan jauh lebih hebat ketimbang Vietnam. Timnas Garuda harus lebih siap lagi karena bisa jadi serangan tujuh hari tujuh malam bisa terjadi lagi, baik itu di kandang Indonesia, apalagi di kandang mereka sendiri.

Sebenarnya ada kemiripan permainan Indonesia dan Thailand, yaitu sama-sama mengandalkan kecepatan para pemain. Namun, kolektivitas permainan Thailand lebih baik ketimbang Indonesia. Satu pemain yang wajib dimatikan adalah Chanathip Songkrasin. Pemain berjuluk Messi Thailand ini adalah otak permainan mereka. Striker andalan mereka, Teerasil Dangda, akan mati kutu jika "Si Messi" dimatikan.

Indonesia pun harus berbenah diri, terutama di sektor pertahanan jika tak ingin diberondong empat gol lagi oleh Thailand seperti di babak penyisihan. Enam dari tujuh gol yang bersarang di gawang Kurnia Meiga selama Piala AFF adalah buah dari miskordinasi dan miskomunikasi para pemain bertahan. Reposisi pemain belakang sudah dilakukan Alfred Riedl, namun tetap saja lini belakang masih bolong.

Ceuk urang Sunda mah, kagok edan. Apapun yang terjadi di partai final nanti, apakah itu diserang tujuh hari tujuh malam tanpa henti, mudah-mudahan Indonesia bisa juara. Tapi hoyongna mah, Indonesia tiasa ngaladenan Thailand. Tapi saya yakin 11 pemain Indonesia di lapangan bisa memberikan yang terbaik untuk Merah Putih dan doa 200 juta rakyat Indonesia pasti didengar Tuhan. Amiin. (*)

Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved