Sorot

Infrastruktur Pendukung Bandara Harus Ada

JIKA Anda harus transit di Bandara Internasional Changi Singapura minimal 6 jam, maka itu adalah kesempatan untuk berkeliling negara kota tersebut sel

Infrastruktur Pendukung Bandara Harus Ada
dokumentasi tribun jabar
Aditya Annas Azhari, Wartawan Tribun

JIKA Anda harus transit di Bandara Internasional Changi Singapura minimal 6 jam, maka itu adalah kesempatan untuk berkeliling negara kota tersebut selama 2,5 jam secara gratis. Bandara tersebut memiliki fasilitas free Singapore tour. Anda cukup mendaftar di booth yang disediakan dengan menunjukkan paspor dan tiket pesawat. Jika sudah terdaftar Anda bersama penumpang lain yang berminat, akan dibawa berkeliling Singapura, dengan bus ber-AC yang nyaman termasuk pemandu wisata yang ramah.

Tentu saja 2,5 jam berkeliling Singapura bukan waktu yang cukup jika ingin melihat lebih banyak, apalagi berbelanja. Namun program tur gratis itu membuat orang yang punya waktu terbatas dapat menikmati Singapura sekaligus dapat berswafoto di ikon-ikon Singapura.

Program tersebut dapat terwujud karena infrastruktrur Singapura yang bagus dan rapi, sehingga dari bandara internasional Changi ke tempat-tempat yang menarik itu dapat dijangkau dengan mudah dan cepat. Bandara Changi merupakan bandara terbaik di dunia yang berfasilitas lengkap, mulai dari bioskop, kolam renang, taman, puluhan restoran, dan aneka fasilitas lainnya.

Peserta free Singapore tour tidak perlu cemas ketinggalan pesawat, selain karena pengaturan waktu yang tepat, juga karena Negeri Singa itu bebas macet, bersih, dan rapi.

Indonesia juga tak mau kalah dari Singapura. Presiden Jokowi berambisi menggaet 20 juta wisatawan internasional pada 2019. Karena itu pemerintah saat ini bukan saja membebaskan visa kunjungan bagi banyak negara, tapi juga giat membangun dan menyempurnakan bandara.

Banyak bandara dibangun, dipercantik, bahkan landasan udara milik TNI AU pun dijadikan bandara bagi penerbangan sipil. Bagi negara dengan 17.508 pulau ini, transportasi udara memang sarana vital untuk menjadi jembatan penghubung.
Karena itu suatu wilayah yang memiliki bandara internasional, maka harus juga memperbaiki dan menyempurnakan infrastrukur pendukungnya. Tanpa infrastruktur pendukung, bandara internasional akan sia-sia. Apalagi di tengah persaingan internasional dan persaingan bebas. Banyak kota-kota lain di Asia Tenggara (saja) yang berlomba mempercantik diri, dan berupaya jadi pusat pariwisata, dengan membuka bandara internasional.

Awal Januari 2017 Bandara Husein Sastranegara Bandung akan mengoperasikan terminal internasional. Daya tampung terminal itu akan mencapai satu juta penumpang. Tentu saja pengelola bandara berharap akan banyak penerbangan internasional ke Bandung, seperti misalnya Bandung-Bangkok.

Di sini yang diperlukan adalah kecepatan membangun infrastruktur pendukung bandara tersebut. Karena apa artinya bandara bagus, jika penumpang masih harus jalan kaki dari pesawat ke terminal, sarana parkir kendaraan sulit, layanan taksi bandara buruk, dan tidak ada sarana transportasi massal yang terintegrasi ke bandara itu.

Bayangkan jika turis asing yang keluar Bandara Husein harus terjebak macet, atau para backpacker kesulitan mendapat kendaraan umum menuju bandara.

Rencana membangun kereta api dari Bandara Husein ke Stasiun Bandung, di Jalan Kebon Kawung, dengan memanfaatkan jalur rel yang masih ada namun tidak terpakai harus diwujudkan. Membangun gedung parkir bandara harus diupayakan.

Demikian juga keberanian menertibkan taksi bandara harus dilaksanakan. Jika semua infrastruktur dasar pendukung itu terwujud, barulah Kota Bandung boleh bangga memiliki bandara internasional. (*)

Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved