Sejarah

Keluar dari Tempat Penyimpanan, Ini Penampakan Pedang Ki Mastak Peninggalan Prabu Tadjimalela

Selama 12 hari, koleksi utama museum terutama senjata pusaka leluhur dikeluarkan dari tempat pemyimpanan dan dibersihkan

Keluar dari Tempat Penyimpanan, Ini Penampakan Pedang Ki Mastak Peninggalan Prabu Tadjimalela
tribunjabar/deddi rustandi
Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadjimalela 

SUMEDANG, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Bupati Eka Setiawan diberi kesempatan pertama untuk membersihkan pusaka peninggalan raja-raja Sumedanglarang sampai para pangeran, Kamis (1/12/2016). Selama 12 hari, koleksi utama museum terutama senjata pusaka leluhur dikeluarkan dari tempat penyimpanan dan dibersihkan. Puncaknya pada tanggal 12 rabiul awal atau Senin (12/12/2016) dimasukan lagi ke gedong pusaka. Museum Prabu Geusan Ulun ini memiliki 2.624 koleksi peninggalan raja-raja dan pangeran Sumedanglarang.

Bupati Eka yang memakai baju hitam-hitam ini diberi kesempatan ngumbah atau mencuci Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadjimalela yang merupakan raja Hibarbuana cikal bakal Sumedanglarang. Pusaka ini dimasukan ke air dalam wadah tembaga berisi air dari tujuh mata air dan aneka bunga-bunga. Dengan hati-hati dan pelan, pusaka ini digosok dengan hati-hati kemudian dilap dan kembali digosok dengan memakai sekam serta jeruk nipis.

Mencuci pusaka itu harus memakai air dari tujuh mata air yang ada di Sumedang serta memakai bunga dan minyak japaron. “Air yang dipakai mencuci pusaka ini berasal dari tujuh sumber mata air yang ada di Sumedang,” kata pembawa acara yang masih belia dengan bahasa campur Indonesia dan Sunda.

Usai Bupati Eka ngumbah pusaka, prosesi pencucian pusaka berupa senjata sampai gamelan dilakukan keturunan para pangeran Sumedanglarang.

Keris Ki Dukun peninggalan raja Sumedanglarang Prabu Gajah Agung, keris Panunggal Naga milik Prabu Geusan Ulun. Tak ketinggalan keris yang dipakai Pangeran Kornel, Nagasastra serta badik Curuk Aul milik Jaya Perkosa dengan hati-hati dibersihkan.

Prosesi ngumbah pusaka tidak dilakukan di Gedong Pusaka tapi dilakukan di Gedung Utama Srimanganti yang terletak di bagian depan. Bukan hanya senjata saja yang dibersihkan tapi juga aneka gamelan peninggalan karuhun Sumedang yang diantara gamelan Sari Oneng juga dicuci. Pusaka raja-raja Sumedanglarang itu terus dipelihara dan tidak jatuh ke tangan kolonial Belanda. Semua peninggalan itu dirawat Bupati Soeriatmaja atau Pangeran Mekah dan akhirnya diwakafkan.

Sebelum melakukan ngumbah pusaka, dilakukan dulu kirab membawa pusaka mengelilingi Alun-Alun Sumedang. Mahkota Binokasih serta puluhan senjata pusaka ini dibawa keluar dari museum mengelilingi Alun-Alun Sumedang dengan membuka gerbang jalan Masjid Agung.(std)

Penulis: Deddi Rustandi
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved