411 - 212

Long march ini menghadirkan kenyataan membanggakan sekaligus mengharukan. Bangga karena mereka dengan semangat tinggi berjalan kaki menempuh 260 km

411 - 212
dokumentasi tribun jabar
Darajat Arianto, Wartawan Tribun
DALAM sebulan terakhir, angka 411 dan 212 menjadi perbincangan hangat. Menjadi bahan obrolan di warung kopi hingga Istana Presiden. Di dunia maya pun, angka itu menjadi viral, bahkan dilengkapi logo, ilustrasi, gambar dan kata-kata yang membakar semangat. Ya, angka 411 untuk menyebut Aksi Bela Islam II yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jalan Thamrin, dan Istana Kepresidenan pada 4 November 2016. Angka 212, kependekan dari 2 Desember 2016, yang juga berupa aksi sebagai kelanjutan kasus penistaan agama Islam yang diduga dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur nonaktif DKI Jakarta. Keduanya merupakan kelanjutan aksi pertama pada 14 Oktober 2016. Saat itu ribuan umat Islam dari ormas-ormas seperti FPI, FUI, dan GMJ, berunjuk rasa di Balai Kota DKI, pada kasus yang sama. Aksi ini menunjukkan kebersamaan kaum muslim. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan, membela Islam. Sebaliknya, banyak kalangan menyebut aksi ini merupakan jalan silaturahim yang kuat di antara kaum muslim Indonesia. Kasus ini menjadi kekuatan umat Islam bersatu membela agamanya. Sekitar dua juta orang berkumpul pada aksi 411. Ini menunjukkan kekuatan luar biasa dari kaum muslim Indonesia. Keberagamaan orang Islam tentunya memiliki potensi luar biasa. Untuk itu, kebersamaan ini sebaiknya diarahkan menjadi kekuatan untuk melahirkan karya dan prestasi kaum muslim Indonesia agar memberikan andil besar terhadap pembangunan bangsa, baik dari sisi ekonomi, teknologi, hingga kehidupan sosial masyarakat. Peran besar tersebut diyakini bisa mengembalikan kejayaan Islam seperti di masa lalu. Seperti Ibnu Sina (980-1037) yang menghasilkan ilmu kedokteran, Al-Khawarizmi (780-850), ahli matematika dan astronomi, dan Umar Khayyam (1048-1131), ahli astronomi dan sastra. Untuk itu, mereka yang berbondong-bondong ke Jakarta, diharapkan hadir untuk membangkitkan persaudaraan dan kejayaan Islam. Demikian pula aksi long march para santri asal Ciamis ke Jakarta, patut diapresiasi. Long march ini menghadirkan kenyataan membanggakan sekaligus mengharukan. Bangga karena mereka dengan semangat tinggi berjalan kaki menempuh sekitar 260 km dengan satu tujuan, membela Islam. Rasa haru menguat karena sepanjang perjalanan, rakyat dengan tulus memberikan dukungan, baik moril maupun materi disodorkan untuk mereka yang tengah berjihad. Makanan, minuman, hingga dana diberikan kepada para mujahid ini. Bahkan di Cimahi, rakyat dengan sukarela mengumpulkan uang hingga terkumpul Rp 30 juta hanya dalam 6 jam. Mereka yang memberi dukungan percaya bahwa dengan membantu pun, insya Allah merupakan bagian dari jihad juga. Jalan jihad memang banyak. Seseorang yang ikhlas menjalankan perintah Allah Swt sudah termasuk jihad. Ibu rumah tangga yang rida menjaga harta dan kehormatan suami juga tercatat sebagai jihad. Suami yang bekerja keras demi keluarganya termasuk jihad. Mereka yang punya harta kemudian menyalurkan di jalan Allah Swt tentu dicatat sebagai jihad. Demikian pula para santri yang berjalan jauh untuk membela agama adalah jihad. Jadi silakan laksanakan jihad semaksimal mungkin dengan apa yang kita punya. Boleh dengan harta, tenaga, pikiran, waktu, dan kesempatan, serta lakukan secara maksimal. Kuncinya ikhlas, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. (*)
Penulis: Darajat Arianto
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved