Travel
Dua Hari Dua Malam Daki Argopuro, Temukan Tempat Pemujaan sampai Pergoki Pembalak Liar
Bukan hanya menantang, gunung degan ketinggian 3080 mdpl ini juga menawarkan sejuta keindahan.
TRIBUNJABAR.CO.ID -- Gunung Argapura di Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu tempat destinasi favorit bagi para pendaki. Rute pendakian sepanjang 36 km, menjadi rute pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Di situlah daya tarik bagi para pendaki untuk menaklukan puncak Gunung Argapura atau biasa disebut argopuro.
Bukan hanya menantang, gunung degan ketinggian 3080 mdpl ini juga menawarkan sejuta keindahan. Selama perjalanan, pendaki disuguhkan berbagai keindahan seperti hutan lebat, danau, hutan sabana dan masih banyak lagi. Keindahan satwa liar juga menjadi daya tarik lain bagi para pendaki. Seperti burung merak yang bisa ditemui pendaki di daerah Cikasur.
Yang khas lainnya dari gunung Argapura ini, masih adanya tempat pemujaan. Di beberapa titik, pendaki bisa menemui tempat pemujaan tersebut. Dibawah puncak rengganis juga terdapat semacam makam. Beberapa cerita juga terkanal melengkapi keindahan Gunung Argapura, seperti Legenda Dewi Rengganis. Konon Dewi Rengganis merupakan seorang dewi yang diasingkan ke Jawa Timur, yang berasal dari sunda. Ini dibuktikan dengan nama-nama daerah di Gunung Argapura yang berbau budaya Sunda, seperi Cisentor, Cikasur, dll.
Untuk menikmati indahnya pemandangan diwilayah Gunung Argapura bisa dilalui melalui Baderan, Kec. Sumbermalang, Kab. Situbondo, atau lewat Bremi, Kec, Krucil, Kab. Probolinggo.
Salah satu pendaki yang pernah menjajal gunung Argapura, Stefanus, mengungkapkan pengalamannya paling mengesankan adalah ketika mendaki Gunung Argapura. Meski harus siap fisik, mental, dan juga logistik, semua terbayarkan ketika menikmati indahnya alam diperjalanan dan terutama setelah sampai di puncak. "Berat banget waktu itu bawa carrier, tapi dibawa santai jadi enggak kerasa. persiapan makanan dan logistik sekitar buat 7 hari lah," ungkap Stefanus kepada Tribun.
Kala itu Stefanus berangkat dari Bandung, menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Dari stasiun, naik angkot menuju terimanal di Sidoarjo kurang lebih 15 menit. Dari terimanal Sidoarjo barulah naik bus menuju Kabupaten Purbalingga. Untuk menuju desa terdekat, para calon pendaki bisa menggunakan angkot.
Stefanus mendaki bersama sembilan temannya. Mereka membutuhkan waktu 2 hari 2 malam untuk menuju puncak Argapura. Umumnya, dibutuhkan waktu dua haru satu malam untuk mencapai puncak sana. Karena memilih mendaki dengan santai, Stefanus dkk memakan waktu sedikit lebih lama.
Dari pos pendakian menuju camp pertama, di danau Taman Idup, dibutuhkan waktu seikitar 6 jam. Stefanus dkk memilih berkemah 2 malam di danau Taman Idup. Selain bisa menikmati keindahan alam disana, hujan juga memaksa mereka berkemah lebih lama. Trek di Gunung Argapura memang tidak terjal. Trek yang lebih landai ditempuh sekaligus menikmati indahnya alam oleh para pendaki. Namun, panjangnya rute pendakian menurut Stefanus tidak anjurkan untuk pemula. "Kalau buat penjelajah yang suka naik gunung, saya sarankan ke sana deh. Pemandangannya enggak itu-itu aja. Jadi asik lah ke sana," tutur Stefanus.
Di tengah perjalanan, Stefanus sedikit dikagetkan dengan bisingnya suara mesin gergaji. "kata pendaki lokal sih pembalakan liar. Saya dengernya juga enggak hanya satu mesin," ungkap Stefanus. Stefanus juga menemukan beberapa pohon bekas terbakar. "kalau disitu pas musim kemarau memang rawan kebakaran," tambahnya.
Sebelum mencapai puncak, para pendaki bisa berkemah di lembah gunung Sabana Lonceng. Yang istimewa lagi dari Gunung Argapura juga memiliki beberapa puncak. Sekali mendaki, para pendaki bisa menikmati tiga puncak sekaligus, yaitu Puncak Rengganis, Puncak Argapura, dan Puncak Hyang. Ketiga puncak tersebut tidak terlau jauh dan tinggi dari lembah sabana lonceng, sehingga bisa menikmati puncak sambil tetap berkemah di lembah.
Untuk menikmati sunrise, pendaki bisa naik ke Puncak Rengganis, kuang lebih 100 meter dari lembah sabana lonceng. Sedangkan Puncak Hyang dan Argapura dipenuhi pepohonan lebat, sehingga hanya bisa menikmati indahnya hutan.
Jalur pendakian di Gunung Argapura biasanya melewati puncak, sehingga jika turun melewati wilayah yang berbeda ketika mendaki. Jika mendaki dari Bremi, pendaki akan turun di desa Baderan. Saat turun dari puncak menuju Baderan, pendaki juga disuguhi padang rumput sabana. Di wilayah Cikasur tersebut terdapat padang rumput bekas landasan pesawat zaman penjajahan Jepang.
Secara Keseluruhan, perjalanan mendaki Gunung Argapura membutuhkan waktu 5 hari 4 malam seperti yang ditempuh Stefanus dkk. Namun, biasanya jika mendaki secara normal, pendakian bisa ditempuh 4 hari 4 malam.
Untuk memasuki wilayah Gunung Argapura, para pendaki dikenakan biaya oleh pengelola sebesar 20.000 rupiah perorang permalamnya. Jika hari Jumat, sabtu dan Minggu dikenakan biaya 30.000 rupiah. Namun menurut Stefanus dengan biaya sebesar itu, belum sebanding dengan fasilitas yang didapat. "Kalau di taman nasional lain itu harga segitu kita udah dapet asuransi, ada peraturannya, pengecekan barang, penunjuk arah, dll. Kalau di sana ya cuma ditarik uang aja, udah ga dapet fasilitas apa-apa," ujar Stefanus. Secara keseluruhan, Stefanus sendiri mengularkan biaya seikitar 700ribu, dari mulai logistik, transport, dll.
Bagi pendaki yang tidak mau bersusah payah membawa barang berat, pihak pengelola Gunung Argapura juga menyediakan porter. Sekitar 150-200 biaya sewa porter perharinya. (tj4)