Jangan Ada Karma di Piala AFF

LANGKAH tim nasional Indonesia di Piala AFF 2016 berada di ujung tanduk. Dua laga yang dilewati di fase grup berakhir dengan kekecewaan.

Jangan Ada Karma di Piala AFF
TRIBUN JABAR
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

LANGKAH tim nasional Indonesia di Piala AFF 2016 berada di ujung tanduk. Dua laga yang dilewati di fase grup berakhir dengan kekecewaan. Di laga pertama, Boas Solossa dkk dibantai Thailand 2-4, sementara di laga kedua ditahan imbang tuan rumah Filipina 2-2. Raihan satu poin membuat posisi Indonesia berada di posisi paling buncit.
Mau tak mau di laga terakhir melawan Singapura, malam ini, timnas harus bisa memenangi laga tersebut. Tapi kalau pun menang, langkah timnas belum aman, karena harus menunggu hasil akhir laga Filipina melawan Thailand yang dihelat di waktu yang sama.

Jika Filipina bisa menang maka Indonesia harus angkat koper dari Piala AFF. Tetapi jika Filipina draw atau kalah, maka Indonesia yang menang lawan Singapura berhak atas tiket semifinal sebagai runner up Grup A untuk menghadapi Vietnam sebagai pemuncak Grup B.

Baik Grup A ataupun Grup B, pertandingan terakhir yang dihelat 25 dan 26 November menjadi penentu siapa tim yang berhak menggenggam tiket semifinal untuk menemani Thailand (juara Grup A) dan Vietnam (juara Grup B).
Di Grup A, tiga tim sama-sama berpeluang untuk lolos. Di mana Filipina, Indonesia, dan Singapura akan saling bunuh. Tapi di grup ini, Filipina lebih diuntungkan karena jika menang maka hasil yang diraih Indonesia dan Singapura tak berpengaruh apapun. Sebaliknya, jika Filipina kalah, dan Indonesia atau Singapura menang maka tim ini yang lolos ke semifinal.

Tapi Filipina yang bertindak sebagai tuan rumah, sudah tentu secara non-teknis lebih diuntungkan. Kita berharap tak ada main mata di laga Filipina dan Thailand. Kita berharap Thailand yang sudah pasti lolos, bisa fair untuk tetap bermain maksimal meskipun diperkirakan Thailand akan menurunkan pemain pelapis.

Sementara di Grup B, Myanmar dan Malaysia akan saling bantai demi tiket semifinal. Pertandingan ini akan makin panas karena dibumbui oleh urusan politik kedua negara. Kemarin, Menteri Olahraga Malaysia meminta timnas memboikot laga tersebut dengan alasan kemanusiaan, setelah terjadi pembantaian kamu muslim Rohingya oleh militer Myanmar.
Lalu ada apa dengan timnas Indonesia di dua laga kemarin? Sudah tentu kelemahan timnas ada di sektor lini belakang. Dari enam gol yang bersarang di gawang Indonesia, semuanya karena kurang koordinasinya kuartet bek Yanto Basna, Fachrudin, Beni Wahyudi, dan Abduh Lestaluhu.

Untuk lini tengah dan serang, komposisi yang dimainkan saat melawan Filipina merupakan yang terbaik. Mobilitas Stefano Lilipaly dan Evan Dimas di lini tengah, lalu kecepatan Andik Vermansyah dan Rizky Pora, serta talenta Boas, sudah cukup merepotkan pemain Thailand dan Filipina.

Singapura diprediksi akan merepotkan Indonesia nanti malam. Pasalnya, beberapa pemain Singapura pernah berlaga di Liga Indonesia. Pemain Singapura yang pernah main di Liga Indonesia dan siap diturunkan nanti malam, adalah Baihakki Khaizan (eks Persija dan Persib), Mustafic Fahrudin (eks Persija Jakarta), Shahril Ishak (eks Arema dan Persib), dan Khairul Amri (eks Persiba Balikpapan).

Mereka sudah mafhum dengan karakteristik permainan dan mentalitas pemain Indonesia. Jadi pemain Indonesia jangan terpancing meladeni trik permainan yang akan diperagakan eks pemain Liga Indonesia tersebut.
Mudah-mudahan saja kisah persepakbolaan Indonesia di mana wasit dan hakim garis yang selalu berpihak kepada tuan rumah tak jadi karma di laga terakhir penyisihan Grup A Piala AFF. Mudah-mudahan wasit dan hakim garis bisa fair memimpin laga Filipina lawan Thailand dan Indonesia lawan Singapura. (*)

Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved