Selasa, 7 April 2026

Kisah Korban Bencana

EKSKLUSIF: 5 Keluarga Korban Bencana di Ciwidey Bertahan di Bedeng Rusak

Selama tiga bulan, mereka pun tinggal di tenda sebelum akhirnya pindah ke bedeng sambil menunggu pelaksanaan relokasi.

dok TRIBUN JABAR
Cover Tribun Jabar Edisi Rabu 9 November 2016, menampilkan isu korban bencana yang hingga kini masih tinggal di rumah bedeng. 

CIWIDEY, TRIBUNJABAR.CO.ID - Hampir dua tahun, lima keluarga, korban pergerakan tanah di Kampung Legokkiara, Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, tinggal di bedeng rusak. Mereka bertahan karena tak tahu ke mana harus pergi, sementara relokasi yang dijanjikan pemerintah, ternyata tak kunjung terealisasi.

Pergerakan tanah yang terjadi awal 2015, membuat 37 rumah yang dihuni 41 keluarga di kampung itu rusak sangat parah. Mereka tak diperkenankan kembali membangun di tempat semula karena wilayahnya rawan terkena pergerakan tanah susulan.

Selama tiga bulan, mereka pun tinggal di tenda sebelum akhirnya pindah ke bedeng sambil menunggu pelaksanaan relokasi.

Kompleks bedeng ini dibangun oleh pemerintah dalam waktu 36 hari. Para korban, relawan, personel TNI dan Polri, ikut bahu membahu mewujudkannya. Namun, seperti namanya: hunian sementara, bedeng-bedeng ini hanya bertahan beberapa bulan. Setelah itu kerusakan mulai bermunculan. Belakangan gentingnya bahkan rontok, sementara dinding dan lantainya yang terbuat dari anyaman bambu juga banyak yang jebol. Saat hujan deras, sebagian ruangan di bedeng basah. Air mengucur deras dari atap yang bolong.

"Awalnya 37 bedeng di sini penuh oleh korban bencana, totalnya sekitar 123 orang dari 41 keluarga. Tapi waktu terus berlalu, mereka meninggalkan bedeng dan membangun rumah sendiri dengan meminjam uang banyak. Mereka tidak tahan kalau lebih dari setahun harus tinggal di bedeng. Sekarang tinggal beberapa keluarga yang tinggal," kata Ara (66) di bedengnya, Senin (7/11).

Selain Ara dan keluarganya, ada empat keluarga yang juga masih bertahan di bedengnya yang rusak. Yakni keluarga Engkus (40), keluarga Ecep (50), keluarga Supriatna (30), dan keluarga Nati (55). Masing-masing keluarga beranggotakan tiga orang.

Ara mengatakan, sebagian besar penghuni bedeng pergi setelah hampir setahun tinggal di sana. Mereka memilih pergi dan membangun rumah baru, daripada harus memperbaiki bedeng tersebut. (sam)

Apa yang sedang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk menyelesaikan masalah tersebut? Baca berita selengkapnya di edisi cetak Tribun Jabarhari ini, Rabu (9/11/2016). Follow akun twitter Tribun Jabar: @tribunjabar dan facebook: tribunjabaronline, untuk mendapatkan info terkini.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved