SOROT

Jihad Melawan Kerusakan Lingkungan

Warga wajib ambil bagian agar potensi bencana yang mengepung Jawa Barat bisa diminimalisasi korbannya.

Jihad Melawan Kerusakan Lingkungan
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi pucak hujan baru akan terjadi pada bulan Desember hingga Januari 2017. Namun hujan akan terus terjadi hingga Maret 2017.

Prediksi itu bisa dimaknai bahwa banjir bandang yang terjadi di Garut akibat aliran Sungai Cimanuk tak mampu menampung derasnya air hujan, lalu menewaskan 23 orang dan belasan orang hilang, pada akhir September lalu, baru permulaan musim penghujan.

Di awal periode hujan, bencana yang diakibatkan guyuran hujan juga melanda Kota Bandung. Pada Senin, 24 Oktober lalu, ruas Jalan Dr Djundjunan (Pasteur) berubah bak danau. Mobil yang terparkir di tepian jalan terseret dan mengapung. Lumpur pun menebal di jalanan setelah air surut. Banjir juga menggenangi Jalan Pagarsih, Kota Bandung. Kondisinya tak kalah mengerikan dengan kawasan Pasteur. Dua kawasan itu pun lumpuh total, kendaraan tak bisa melintas.

Kawasan Gedebage yang digadang-gadang bakal terbebas banjir setelah dipasang tol air tetap tergenang kala hujan deras. Derasnya aliran air tak sepadan dengan daya serap tol air yang akan memindahkan genangan ke tempat lain. Bagaimana dengan Baleendah, Dayeuh Kolot, dan Bojong Soang, kawasan yang sering dilanda banjir ketika hujan deras? Kawasan tersbeut kembali diterjang banjir dan warganya kembali mengungsi. Bencana alam, banjir dan longsor, juga terjadi di Bandung Barat, Cianjur, Sumedang, dan bagian wilayah Jawa Barat lainnya.

Pertimbangan curah hujan yang akan terus meningkat, BMKG menyarankan kepada semua pemerintah daerah untuk bekerja sama dan berkoordinasi agar bencana bisa ditanggulangi dengan cepat dan tepat.

Bagaimana dengan masyarakat? Warga yang beriman kepada Tuhan mestinya tak akan tinggal diam dengan peringatan tersebut. Warga wajib ambil bagian agar potensi bencana yang mengepung Jawa Barat bisa diminimalisasi korbannya. Caranya? Melakukan gerakan melawan kerusakan lingkungan. Skalanya tidak harus besar, memelihara tanaman di halaman rumah, pekarangan, atau di jalanan menuju rumah, agar harapan hidupnya mendapat jaminan, maka itu juga sudah bagian dari sumbangan melawan kerusakan lingkungan. Jika ada kesadaran untuk memperbanyak menamam pohon, membuat lubang biopori, maka itu akan sangat baik.

Semakin banyak pohon yang tumbuh, maka akan semakin banyak kawasan yang mampu menyerap tumbukan air hujan. Air yang menggelontor ke kawasan yang lebih rendah bisa diredam. Pada skala yang lebih besar, masyarakat bisa ikut mengawasi pihak-pihak yang berupaya mencari keuntungan dengan merusak lingkungan, seperti membabat pohon di kawasan serapan air, semisal di Kawasan Bandung Utara (KBU), lalu melaporkan kepada pemerintah. Seperti diketahui, banjir di cekungan Bandung, satu di antaranya disebabkan rusaknya KBU.
Upaya lain yang sederhana adalah menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan atau membiarkan sungai menjadi bak sampah.

Jika masyarakat melakukan itu, maka mereka telah berjihad mencegah kerusakan lingkungan. Berjihad? Iya. Berjihad tak memulu didefinisikan seperti apa yang diketahui secara umum, memerangi orang kafir. Jihad dalam prepektif Ibu Taimiyah (wafat tahun 728H), mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah.

Menjaga hulu Citarum, Cimanuk, Citepus, dll, tak beralih fungi menjadi lahan pertanian setelah membabat pohon-pohonnya, itu adalah kebaikan yang dicintai Allah. Melarang orang membangun di KBU karena akan mengurangi daerah tangkapan air, adalah kebaikan. Dan tidak menjadikan sungai menjadi tempat pembuangan sampah akhir juga kebaikan yang disukai Allah. Jika jihad melawan kerusakan lingkungan ditegakkan, maka bencana banjir dan longsor yang dikhawatirkan BMKG bisa decegah. Jika bencana tetap terjadi, maka tidak akan memakan korban jiwa. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved