Banjir Rancaekek

Penyebab Banjir Rancaekek Diduga Akibat Tak Efektifnya Saluran Air

ulu enggak banjir dan sekarang banjir pasti ada penyebabnya apakah itu di salurannya ditutup atau ada endapan sedimentasi sampah

Penulis: dra | Editor: Machmud Mubarok
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
BANJIR - Pengguna jalan terpaksa menerobos banjir di Jalan Raya Rancaekek, Kabupaten Bandung, Selasa (1/11). Hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur wilayah Bandung setiap hari mengakibatkan Jalan Raya Rancaekek tenggelam terendam banjir setinggi paha orang dewasa hingga arus lalulintas dari Bandung ke Priangan Timur dan sebaliknya terhambat, berakibat kemacetan sepanjang 4 km. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Pengamat Tata Kota Institut Teknologi Bandung (ITB) Deny Zulkaidi, mengatakan, perlu adanya pengecekan ulang terhadap saluran-saluran air yang berada di Jalan Rancaekek tepatnya di kawasan pabrik PT. Kahatex. Sebab, banjir yang terjadi di kawasan tersebut, diduga akibat kurang efektifnya saluran air.

"Kalau tidak salah Wakil Gubernur pernah ke sana dan mengamuk karena saluran airnya ditutup, makanya perlu diperiksa lagi apakah sudah dibuka atau belum," ujar Deny kepada Tribun saat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin.

Deny mengatakan, sepanjang pemantauannya, kawasan tersebut memang menjadi langganan banjir. Menurut Deny, selain adanya penutupan saluran, diperkirakan ada hal lainnya yang membuat air meluap hingga menutupi jalan.

"Kalau dahulu enggak banjir dan sekarang banjir pasti ada penyebabnya apakah itu di salurannya ditutup atau ada endapan sedimentasi sampah sehingga menyumbat. Atau di bagian hulunya, di daerah resapan air banyak pohon-pohon dibongkar dan dibangun, otomatis resapan air akan mengikis," katanya.

Deny mengatakan, dalam jangka pendek, perlu adanya perbaikan di kawasan banjir. Selain membuka saluran air yang tertutup, perlu juga melihat bangunan-bangunan di sepanjang aliran air.

"Kalau alirannya menyempit dan terbatas itu harus dikembalikan ke kapasitas aslinya. Atau kalau ada gangguan tambahan seperti bangunan, ya dibongkar dikembalikan lagi ke asalnya," katanya.

Namun, ujar Deny, jika sudah diperbaiki masih tetap banjir, perlu penanganan yang lebih serius. Misalkan, lanjut Deny, drainase diperlebar atau ditangani dari mulai hulu aliran air tersebut.

"Kalau Kahatex kan dia ada di bawah, kalau drainaesnya enggak cukup ya diperlebar. Atau penanganan di hulu, resapan airnya diperbesar sehingga sebelum dialirkan ditampung terlebih dahulu," katanya. (dra)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved