Breaking News:

Gabus Pucung Dipercaya Percepat Pengeringan Luka Setelah Operasi Sesar

Khasiat lainnya juga bisa menurunkan kolesterol karena, gabus pucung diolah alami menggunakan bumbu rempah-rempah asli Indonesia.

tribunjabar
Gabus Pucung 

GABUS pucung merupakan makanan khas Betawi yang banyak ditemui di daerah Bekasi
"Gabus pucung sudah mulai ada di Bekasi tahun 1998. Nenek moyang yang bawa ke rumah makan ini. Gabus pucung sebagai menu tradisi khas di warung ini harus ada gabus pucung," ujar Pemilik turunan ketiga Rumah Makan Barokah Nur Bekasi, Hj Uun (35).

Makanan olahan ikan gabus ini dicampurkan dengan kuah berbagai rempah. Bumbu rempah-rempah dicampurkan semua ke dalam kuah ikan gabus seperti, kemiri, bawang merah, cabai ijo, lengkoas, jahe , santan dan tentunya bumbu khasnya yaitu, kluwek atau dalam bahasa Sunda bernama pucung. Sehingga terciptalah nama gabus pucung. Kluwek ini jugalah yang memberikan warna kecokelatan dalam kuah ikan gabus tersebut.

"Kalau pakai kluwek jadi lebih enak rasanya. Menambah cita rasa kalau pakai itu. Kluwek itu juga yang membedakan gabus pucung dengan Soto," ujarnya.

Selain cita rasanya yang berbeda, gabus pucung juga memberikan khasiat bagi kesehatan. "Kalau untuk ibu hamil yang baru melahirkan disesar gitu bisa mengobati lukanya biar cepat kering, " ujar Hj Simah yang duduk disamping Uun. Khasiat lainnya juga bisa menurunkan kolesterol karena, gabus pucung diolah alami menggunakan bumbu rempah-rempah asli Indonesia.

Cecep Noor (45) selaku pelanggan tetap di warung ini membenarkan hal tersebut. Menurutnya, gabus pucung memberikan banyak khasiat bagi kesehatannya. "Lebih sehat aja karena kan pucung bisa membuat jadi sehat, sama ini kan makanan khas orang Bekasi, " ujarnya saat ditemui di Rumah Makan Barokah Nur, Bekasi. Cecep juga mengatakan Gabus pucung paling enak dinikmati saat siang hari ditemani dengan pete, lalab, dan sambal yang membuat gabus pucung semakin nikmat disantap.

Cecep juga mengatakan Gabus pucung lebih nikmat dibandingkan dengan makanan cepat saji. "Lidahnya orang Bekasi jadi udah terbiasanya dengan makan ini. Yang jualannya orang Bekasi maka dinikmatinya juga sama orang Bekasi," ujarnya.

Berbeda dengan Cecep, Syifa (23) yang baru pertama kalinya mencoba gabus pucung merasa kurang menikmati gabus pucung. "Saya suka ikan makanya penasaran nyobain ini. Rasanya kurang familiar aja, ada bumbu rempahnya yang kuat banget. Tetapi, kalau dibuat pedes kayaknya enak deh," ujarnya saat ditemui di Rumah Makan Barokah Nur, Bekasi.

Syifa juga mengatakan gabus pucung lebih enak dinikmati bersama keluarga. "Porsi gabus pucungnya banyak gak bisa kalau makan sendirian. Jadi, beli satu dimakan rame-rame," katanya.

Selain belum terbiasa dengan gabus pucung, Syifa juga mengatakan harga yang ditawarkan satu porsi gabus pucung masih sulit untuk dijangkau. "Seporsinya 50 ribu, buat saya sih gak sesuai aja. Soalnya kan kalau kemahalan, nanti malah susah untuk melestarikan makanannya. Membuat orang malah gak mau beli kalau mahal. Jadi, kalau bisa harganya dimurahkan," ujar Syifa dengan senyuman.(tj4)

Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved