Tinggal 100 Petani Cabai Taraju yang Bertahan
Kelimpungannya para petani cabai di sentra kebun cabai Kecamatan Taraju, sebenarnya sudah mulai terasa sejak dua tahun lalu
Penulis: Firman Suryaman | Editor: Ferri Amiril Mukminin
TASIKMALAYA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Serangan hama, virus, serta hujan deras, terus menghantui ratusan petani cabai hibrida di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Dari total 25 hektare lahan kebun cabai, saat ini yang masih produktif hanya sekitar lima hektare.
Salah seorang petani cabai hibrida, Ahmad Yani, saat dihubungi, Jumat (21/10), mengungkapkan, kelimpungannya para petani cabai di sentra kebun cabai Kecamatan Taraju, sebenarnya sudah mulai terasa sejak dua tahun lalu. Penyebab utamanya adalah serangan virus, bakteri, jamur serta ulat yang merusak daun dan batang.
"Para petani kewalahan melakukan upaya penanggulangan. Terlebih jika diakibatkan virus, sulit ditanggulangi," kata Ahmad, seraya menyebutkan, dari sekitar 200 petani cabai yang masih bertahan mungkin paling banyak hanya sekitar 50 persen.
Selama ini komoditas cabai Taraju dipasarkan di sejumlah Pasar Induk di Jakarta. Sekali panen saat ini berkisar 1-1,5 ton cabai dilempar ke Jakarta. Sebelumnya bisa mencapai tiga kaki lipat. Harga jual saat ini berkisar Rp 35-36.000 per kg di tingkat petani.
Musim hujan yang saat ini masih melanda, juga ikut andil menurunkan produksi cabai. "Kalau musim kemarau dan tidak ada hama, produki cabai bisa mencapai lima ton sekali panen. Sekarang untuk dapat 1,5 ton saja sudah sulit," ujar Ahmad.
Dia menambahkan, pemasaran cabai Taraju tak bisa menembus Pasar Induk Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, karena tidak ada peluang. Pasokan cabai di sana didrop dari Garut, Cirebon dan daerah Jatim. "Pasar cabai kami ke sejumlah pasar induk di Jakarta," kata Ahmad.(stf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lili-hambali-menunjukkan-cabai-tanjung-yang-busuk_20161011_134149.jpg)