Breaking News:

Cerpen Dadang Ari Murtono

Lelaki Tua dan Lelaki Tua dan Laut

PADA hari kedelapan wafat istrinya, ia menyadari bahwa pada hari-harinya setelah ini, kesepian yang mengerikan telah membentang

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Tua dan Lelaki Tua dan Laut 

Si lelaki tua, yang menghabiskan nyaris sepanjang umurnya untuk bekerja dan bekerja, yang dibesarkan oleh orang tua yang juga nyaris menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja hingga tak memiliki kesempatan untuk menceritakan dongeng apa pun, begitu terpukau mendapatkan buku tersebut. Si guru membacakan judul buku itu, Lelaki Tua dan Laut. "Ceritanya bagus," ujar si guru sebelum pergi.

Lelaki tua memerlukan waktu sehari penuh untuk membaca kalimat pertama novel yang diterbitkan oleh penerbit Serambi tersebut. Dialah lelaki tua yang memancing ikan sendirian di sebuah perahu di perairan Arus Teluk, dan kini telah genap delapan puluh empat hari dia gagal menangkap seekor ikan pun. Alangkah mengerikannya nasib lelaki tua ini, ia bergumam. Ia berhenti lama setelah membaca kalimat pertama tersebut. Imajinasinya membentuk sebuah gambaran yang membuatnya bergidik. Ia teringat kampung halamannya, orang tuanya yang telah tiada, tetangga-tetangganya. Tak satu pun dari mereka yang pernah mengalami peristiwa seburuk peristiwa yang tertulis dalam kalimat pertama itu.

Pada hari kedua, ia berhasil menyelesaikan paragraf pertama dan kembali ia berhenti lama, membayangkan detail-detail kecil peristiwa itu. Kesibukannya belajar membaca, dan kini membaca novel karangan Ernest Hemingway itu, menyelamatkannya dari kesepian yang pernah ia takutkan. Bahkan, ia lupa untuk apa ia belajar membaca. Ponselnya tergeletak di sudut ruangan tanpa pernah sekali pun ia sentuh. Dan anak-anaknya tampaknya juga benar-benar melupakannya. Tak satu pun dari mereka yang datang menjenguknya.

Semakin hari ia semakin larut dalam novel yang dibacanya dengan susah payah huruf per hurufnya itu. Pada hari keempat, sewaktu persediaan makanan habis, ia memutuskan meluangkan waktu meninggalkan kesibukannya dan berbelanja untuk tiga bulan ke depan. Dengan stok makanan berlimpah, ia tak perlu lagi keluar rumah dan itu membantunya membaca dengan tenang.

Dan pintu rumahnya tak pernah lagi terbuka. Debu, rerumputan, lumut, ular, dan hal-hal semacam itu bersepakat menyuramkan rumahnya yang besar, menciptakan kesan bahwa rumah itu suwung belaka. Tetangga-tetangganya bahkan telah lupa bahwa ia pernah ada. Hingga enam bulan kemudian, si anak pertama, yang tiba-tiba ingat bahwa ia masih memiliki seorang bapak, berkunjung ke sana. Ia mendapati rumah yang nyaris tinggal puing dengan semua pintu dan jendela terkunci. Berkali-kali ia mengetuk dan memanggil, tapi tak ada jawaban terdengar. Dalam kegusaran dan kecemasan, si anak pertama memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut.

Dan inilah yang ia temukan: seonggok tubuh dalam posisi duduk di sebuah kursi di ruang tengah, tengah menekuri sebuah buku terbuka (halaman 122) yang tergeletak di atas meja. Si anak pertama nyaris pingsan, bukan karena tahu bapaknya telah tak bernyawa, melainkan ngeri melihat kondisi mayat yang tak lazim. Mayat itu tidak membusuk. Sama sekali tidak. Melainkan menyusut. Rambut si mayat sepertinya tetap tumbuh dan kini menjuntai hingga punggung. Kuku-kuku di jari tangan dan kaki juga memanjang. Dan mata mayat itu, mata mayat bapaknya, benar-benar utuh, bahkan tampak lebih baik daripada sewaktu pemiliknya masih hidup, redup tapi berkilau. Tapi ia tahu bapaknya telah meninggal.

"Ia seperti jenglot," demikian yang dikatakannya sewaktu menelepon kedua adiknya. "Jenglot yang membaca buku," tambahnya dengan suara bergetar.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved