Sorot

Peringatan Dini

HUJAN dan cuaca mendung kerap melanda Kota Bandung dan beberapa daerah di Jawa Barat.

Peringatan Dini
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Dedy Herdiana, Wartawan Tribun Jabar

HUJAN dan cuaca mendung kerap melanda Kota Bandung dan beberapa daerah di Jawa Barat. Sejumlah daerah di Indonesia pun tak luput dari cuaca ekstrem ini. Seperti yang disiarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah harus meningkatkan kewaspadaan akan terjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang pada 8-11 Oktober 2016.

Wilayah yang disebut BMKG adalah Lampung, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat bagian Selatan, Kalimantan Tengah bagian Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah tersebut agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin. Pengguna dan operator jasa transportasi laut, nelayan, dan masyarakat yang berlibur ke wilayah pesisir pun diimbau mewaspadai potensi gelombang laut dengan ketinggian 2,5-4,0 meter di Laut Andaman, perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Samudra Hindia selatan Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara Timur, perairan selatan Kepulauan Tanimbar, dan Laut Arafuru.

Khusus wilayah Jabar, BMKG merilis dua kali peringatan dini di situsnya. Pertama peringatan dini untuk Minggu (9/10) yang menyebutkan agar mewaspadai hujan di pantai selatan Jabar mulai Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Kedua, peringatan dini untuk Senin (10/10) yang menyebutkan untuk mewaspadai terjadinya hujan berintensitas sedang hingga lebat disertai petir di pesisir selatan Jabar seperti Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Apakah peringatan dini tersebut telah ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat dalam rangka melindungi warganya? Sesuai pemberitaan Tribun Jabar, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan telah mengeluarkan imbauan langsung kepada masyarakat untuk waspada. Menurutnya, sekarang ini kondisi cuaca tergolong ekstrem, untuk itu masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana. "Masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan bencana harus ekstra waspada. Ketika ada gejala, ada kekhawatiran, bisa dipicu angin, cuaca, hujan, segera menyelamatkan diri. Segera evekuasi keluarga," katanya.

Belum lagi dari sisi anggaran yang disediakan. Menurut Aher, dana cadangan tanggap darurat bencana yang dialokasikan Pemprov Jabar pada APBD Perubahan 2016 sebesar Rp 10 miliar masih utuh alias belum digunakan. Dana itu baru akan digunakan bila pemerintah kabupaten/kota tidak memiliki lagi anggaran penanganan bencana. Pemprov Jabar juga telah menyalurkan dana Rp 10 miliar untuk penangangan pascabencana di Garut dan Sumedang.

Namun sayang meski antisipasi sudah disiapkan, korban meninggal akibat bencana di Jabar ternyata masih tergolong cukup banyak. Hal ini dikatakan Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar Dadan Ramdhan seperti dikutip Tempo.co, Sabtu (8/10). Berdasarkan catatan Walhi Jabar dalam 9 bulan terakhir, rata-rata per bulan korban meninggal dunia akibat bencana alam itu mencapai 11 orang.

Semoga saja mulai 9 bulan ke depan dan seterusnya dampak cuaca ekstrem itu bisa terus berkurang, bahkan akan lebih baik jika tidak menimbulkan dampak serius seperti korban meninggal. Diharapkan pemerintah lebih rajin mengingatkan warganya dan membangun infrastruktur yang ramah lingkungan. (*)

Naskah ini juga dimuat di Tribun Jabar edisi cetak, Senin (10/10/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: Dedy Herdiana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved