Leisure

Para Barista Ini Siap Meracik Kopi untuk Suami Tercinta

Idenya muncul saat Sandi berhasil mendidik istrinya yang mulanya tidak menyukai kopi menjadi gemar dan mampu membuat kopi

Para Barista Ini Siap Meracik Kopi untuk Suami Tercinta
Tribun Jabar
Sekelompok ibu-ibu muda yang tergabung dalam Barista Muslimah rution berkumpul di Baraya Coffee, Jalan Trunojoyo, Bandung

PERACIK kopi alias barista, bukan monopioli kaum adam. Di Bandung, ada sekumpulan wanita yang kegiatannya mempelajari dan membuat kopi. Komunitas ini dinamai Barista Muslimah.

Barista Muslimah lahir dari rahim kedai kopi Baraya Coffee di Jalan Trunojoyo No 25. Meski namanya Barista Muslimah, bukan berarti para anggotanya mahir meracik kopi. Justru sebagian dari mereka mulanya tidak menyukai kopi dan akhirnya mencintai kopi setelah mempelajari seluk beluk kopi di komunitas tersebut.

Anggotanya pun tidak harus mereka yang mengenakan kerudung (jilbab). Siapapun wanita bisa bergabung dengan komunitas ini. Adalah Sandi Mulyadi, pemilik kedai Baraya Coffee, yang berinisiatif mendirikan komunitas tersebut. Idenya muncul saat ia berhasil mendidik istrinya sendiri yang mulanya tidak menyukai kopi sama sekali menjadi gemar dan mampu membuat kopi dengan teknik yang baik dan benar.

"Motivasi saya sederhana. Kelak di kemudian hari kalau suami punya kebiasaan minum kopi pagi hari, inginnya istri yang buat. Siapa tahu kalau istri saya dikasih pengetahun bagaimana teknik menyeduh kopi yang baik dan benar, dia bisa memberikan yang terbaik untuk suami. Secangkir kopi untuk suami yang terbaik," ujarnya saat ditemui di kedainya, pekan lalu.

Sadar akan 'ajaibnya' manfaat kafein yang terkandung dalam biji kopi, Sandi terdorong untuk menyebarkan pengetahuan tentang kopi kepada para wanita dengan membentuk komunitas tersebut. Setelah mempelajari kopi selama tiga tahun, ia berpikir kopi lebih memberikan dampak yang baik jika dikonsumis wanita.

Barista Muslimah telah melakukan aktivitasnya sebagai komunitas selama dua bulan. Anggotanya tersebar di beberapa kota. Di Bandung, sekitar 7 orang yang rutin melakukan pertemuan di Baraya Coffee setiap Sabtu.

"Di sini enggak semua anggota suka kopi awalnya. Kami saling berbagi ilmu saja. Ada yang pengen belajar kopi. Ada juga yang sudah paham tentang kopi," ujar anggota Barista Muslimah Nyimas Aminah, yang juga istri dan murid pertama dari Sandi Mulyadi.

Selain belajar menyeduh kopi, Barista Muslimah juga melakukan kegiatan lain di antaranya diskusi buku. Salah satu buku yang telah dibahas adalah Miracle of Caffeine yang bercerita tentang keajaiban kafein dalam kopi. Para anggotanya juga saling berbagi tentang sesuatu yang dikuasai masing-masing anggota seperti perawatan kecantikan.

Anggotanya beragam mulai pemudi yang belum menikah hingga mereka para ibu muda.

"Di sini langsung praktik membuat kopi. Jadi setelah dapat teori di sini anggotanya langsung praktik buat kopi. Jadi tahu mengapa suhu air harus sekian derajat," kata anggota Barista Muslimah lainnya Yoanita Widya Puspaningsih.

Serupa dengan Nyimas Aminah, Yoanita pun awalnya cenderung menjauhi kopi. Dengan riwayat penyakit yang pernah dideritanya yakni yakni mag akut, ia tidak mau menaikkan asam lambungnya dengan meminum kopi. Pemikiran yang salah kaprah tersebut hilang setelah ia bergabung di Barista Muslimah dan belajar tentang kopi.

"Terus saya dapat ilmu di sini bahwa kalau kita minum kopi segar, tidak ada masalah pada lambung. Setelah saya coba (minum kopi) ternyata tidak ada efek apapun ke lambung," ungkapnya.

Di Barista Muslimah, ia belajar bagaimana membuat kopi secara cuma-cuma dengan peralatan kopi yang telah tersedia di Baraya Coffee. "Kita mengajak orang minum kopi enggak cuma bilang ini kopi enak. Tapi biar orang sendiri nanti yang menyimpulkan, oh ini manfaatnya," katanya.

Di komunitas ini, anggotanya pun belajar tentang seni membuat kopi, misalnya latte art. Tidak sedikit pendatang dari luar kota datang ke Baraya Coffee untuk belajar kopi. "Karena belajar jadi barista itu mahal, satu penyeduhan aja dia harus bayar jutaan. Sedangkan di sini yang mau belajar enggak bayar sepeser pun. Cuma bayar kopi yang diminum saja," ucapnya. (ee) 

Editor: Adityas Annas Azhari
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved