Coffee Break

Heboh Ahok

Kini ada satu topik lagi yang tidak kalah potensi panasnya: Ahok. Coba Anda tulis . . .

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dedy Herdiana
Heboh Ahok
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh: Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SAYA pernah menulis di kolom ini, ada tiga topik yang selalu ramai jika diperbincangkan: rokok, poligami, dan Jokowi. Lebih-lebih jika sudah menyinggung agama, perbincangan bisa meningkat menjadi perdebatan panas tanpa juntrung.

Kini ada satu topik lagi yang tidak kalah potensi panasnya: Ahok. Coba Anda tulis status di media sosial dengan topik Ahok. Tidak usahlah status yang membela Ahok. Cukup menulis postingan yang menyiratkan bahwa Anda tidak menyalahkan Ahok. Tak lama, pasti bermunculanlah komentar- komentar yang menyudutkan Anda. Saya sudah membuktikannya.

Sejak awal saya sudah menduga bahwa kasus "Ahok menghina Surat Al-Maidah 51" itu sudah telanjur membakar amarah orang-orang, sampai-sampai ada yang melaporkan Ahok ke polisi. Tapi, seheboh apa pun suatu berita, saya terbiasa tidak langsung memercayainya, terutama pada tahun-tahun terakhir, ketika dunia maya penuh dengan berita yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik. Sejauh mungkin saya harus melihat dari beberapa sudut pandang. Kalau memungkinkan, saya harus menemukan sumber kehebohan itu.

Pada kasus "penghinaan Ahok" yang heboh itu, saya membaca sejumlah postingan di media sosial, termasuk situs-situs yang tergolong "abal-abal". Tapi di sini saya kemukakan tiga postingan yang kira- kira mewakili.

Pertama, postingan Jonru. Anda tahu, kan, siapa dia? Kalau tidak, Anda bukan pelaku medsos sejati. Pada salah satu postingannya, Kamis lalu, ia menulis begini: ... Intinya, Koh Hok mengajak PNS di pulau seribu untuk ikut program bisnis agar punya banyak uang. Dia ajari caranya. Sampai di sini, tak ada masalah. Semuanya bagus-bagus aja. Lalu di bagian tengah Koh Hok berkata, "Jangan khawatir. Walau nanti saya tidak terpilih lagi jadi gubernur, program (bisnis) ini tetap berjalan, kok. Jika saya tidak terpilih lagi, maka saya akan jadi gubernur DKI sampai Oktober 2017. Jadi jika misalnya Anda tidak pilih saya (pada Pilgub DKI 2017), karena dibodoh-bodohi oleh surat Al Maidah 51... jika Anda takut masuk neraka, ya dibodoh-bodohi lagi.., ya tidak masalah." KESIMPULAN: Setelah menonton video panjangnya pun, intinya tetap sama: Koh Hok MENGHINA AL QURAN. Titik.

Kemudian Jonru mempersilakan siapa pun yang tidak percaya untuk menonton sendiri rekaman ucapan Ahok di Youtube. Mengikuti anjuran Jonru, saya dengarkan video di Youtube itu mulai menit ke-23:40 sampai 25:35. Saya bolak-balik mendengarkan, kalau-kalau salah dengar. Dan yang saya tangkap dengan telinga saya, Ahok mengatakan: ".... dibodoh-bodohi pake surat Al Maidah 51..." bukan "... dibodoh-bodohi oleh surat Al Maidah 51..." seperti yang ditulis Jonru.

Kedua, postingan Iqbal Aji Daryono, netizen yang juga penulis buku Out of the Truck Box. Ia menulis begini: Barusan ada ribut-ribut soal Ahok dan Al-Maidah ayat 51. Selain ajang berantem pilkada dan kepentingan-kepentingan SARA, kasus ini juga akan menjadi lahan pembuktian tentang siapa yang logika linguistik-nya lebih tajam: apakah sama antara "dibohongi oleh..." dan "dibohongi dengan/pakai..."? "Dibohongi OLEH X". Maka si X berbohong. Si X adalah pelaku pembohongan. (Contoh lain: Bambang digebuk OLEH Budi.) "Dibohongi DENGAN/PAKAI X". Maka X adalah alat atau instrumen yang dipakai untuk berbohong. Pelaku pembohongannya ya seseorang entah siapa. (Contoh lain: Bambang digebuk DENGAN/PAKAI sapu. Cat: 'sapu' di sini bebas nilai, hingga kemudian ia dipakai buat nggebuk.)

Ketiga, postingan Alifurrahman, pengelola situs seword.com, yang saya kutipkan beberapa kalimat: Silakan perhatikan, pernyataan Ahok sama sekali tidak melecehkan Alquran. Kalimat "karena dibohongin pake surat Almaidah 51" bukan berarti surat Almaidah bohong, tapi dibohongin PAKE surat Almaidah 51. Artinya ada orang yang membohongi masyarakat MEMAKAI surat Almaidah 51. Ada orang yang menakut-nakuti masyarakat agar tidak memilih Ahok karena diancam neraka dan sebagainya. Beda kalau Ahok bilang "dibohongin sama Almaidah 51" itu artinya Almaidahnya yang bohong atau membohongi.

Saya membuat status di FB dengan prinsip cover both side. Saya pun mengakhirinya dengan Silakan Anda memercayai yang mana, tentu setelah membuktikannya sendiri. Intinya, teliti sebelum membeli.

Seperti yang saya duga, segera komentar-komentar bermunculan. Sebagian mendukung tulisan saya. Tapi banyak juga yang sebaliknya. Di antara yang tidak sepakat, ada komentar kira-kira seperti ini: Bagaimanapun alasannya, pokoknya tetap saja Ahok menghina Alquran. Dan bagi muslim yang membela Ahok, silakan tanya pada diri sendiri masih pantaskah disebut muslim.

Saya jadi kata-kata guru saya di SMP: kalau seseorang sudah pakai kata pokoknya, pasti akan sulit diajak berdiskusi.
Begitulah kiranya. (*)

Naskah ini juga dimuat di Tribun Jabar edisi cetak, Minggu (9/10/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved