Cerpen Noor H Dee

Cerpen untuk Calon Presiden

SEJAK menulis paragraf pertama, pengarang itu sudah merasa mual. Seluruh isi lambungnya mendesak-desak ingin keluar dari mulutnya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen untuk Calon Presiden 

Itu sebabnya, malam ini ia ingin buru-buru menyelesaikan cerpen tersebut. Menyelesaikan satu cerpen dalam satu malam bukanlah perkara sulit baginya. Ia bahkan pernah menyelesaikan cerpennya dalam sekali duduk. Bukan, ia bukan tipe pengarang yang menuhankan produktivitas dan mengabaikan kualitas. Ia bukan tipe pengarang semacam itu. Bagaimanapun juga ia mengerti bahwa kredibilitas seorang pengarang bukan ditentukan dari seberapa banyak atau seberapa cepat ia menulis, melainkan ditentukan dari seberapa hebat tulisannya itu mampu menggedor kesadaran pembaca. Dan ia, pengarang itu, mampu menulis cepat dengan kualitas yang tetap terjaga, setidaknya begitulah yang ia yakini mengenai kemampuan menulisnya.

Namun, ternyata malam ini ia tampak kesulitan menyelesaikan cerpen tersebut. Bukan karena perkara writer's block dan yang semacamnya. Hal semacam itu sudah ia lampaui jauh-jauh hari. Mengolah kisah yang biasa-biasa saja menjadi kisah yang luar biasa juga bukanlah persoalan besar baginya. Kemampuan mengarangnya sudah tidak diragukan lagi. Ia kesulitan menyelesaikan cerpen tersebut karena setiap selesai menulis satu paragraf, ia selalu merasa mual dan ingin muntah. Seluruh isi lambungnya mendesak-desak ingin segera dikeluarkan. Ia juga tidak tahu apa penyebabnya.

Ia sudah menulis 20 paragraf, dan sebanyak itu pulalah ia harus bolak-balik ke kamar mandi. Betul-betul merepotkan. Namun, seperti yang sudah-sudah, ketika sedang berada di dalam kamar mandi, hasrat muntahnya hilang. Tidak ada lagi rasa mual dan yang semacamnya.

"Kenapa rasa mualnya hanya muncul ketika aku sedang menulis, ya?" tanya pengarang itu sambil menggaruk-garuk kepala.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Ia langsung mengangkatnya.

"Bagaimana? Cerpennya sudah selesai?"

"Sedikit lagi, Pak. Kira-kira dua paragraf lagi," jawab pengarang itu.

"Wah, ternyata cepat betul, ya, kamu menulis cerpen. Kalau begitu, silakan kamu teruskan lagi. Kalau sudah selesai, langsung saja kirim ke e-mail Bapak, ya."

"Baik, Pak."

Hubungan telepon terputus. Pengarang itu kembali duduk di depan komputer dan melanjutkan kegiatan menulisnya. Jika rasa mual itu kembali datang, ia sudah berniat untuk mencoba menahannya. Menulis dua paragraf lagi tidaklah sulit, pikirnya.

Benar saja. Ketika sudah menyelesaikan satu paragraf, ia kembali merasa mual dan ingin muntah. Kali ini mualnya lebih parah dari sebelumnya. Wajahnya pucat. Kedua pipinya menggembung. Sepasang matanya merah. Ia berusaha untuk tidak pergi ke kamar mandi.

"Satu paragraf lagi. Satu paragraf lagi," ujarnya seperti sedang merapal mantra.

Pengarang itu mulai menulis paragraf berikutnya. Seluruh isi lambungnya kembali meronta-ronta. Telapak tangan kirinya menutup mulutnya. Tangannya yang lain mengetik di keyboard komputer. Ia tidak kesulitan mengetik dengan satu tangan, ia hanya kesulitan melawan rasa mual yang makin lama seperti makin tidak bisa dikendalikan.

Tinggal satu kalimat lagi. Wajah pengarang itu semakin pucat. Tinggal beberapa kata lagi. Kepalanya terasa pusing sekali. Tinggal dua kata lagi. Ia sudah betul-betul ingin muntah. Tinggal satu kata lagi. Senyumnya mulai mengembang. Tinggal satu huruf lagi. Pengarang itu buru-buru menekan tombol titik secepat mungkin.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved