Breaking News:

Cerpen Eko Triono

Ia Memutuskan untuk Melawan Raden

IA memutuskan untuk melawan Raden, justru ketika bulan memasuki fasenya yang paling gelap di Lembah Nilam, pedalaman Aceh Barat.

Ilustrasi Ia Memutuskan untuk Melawan Raden 

"Diam kera-kera, ini bukan malam purnama," lelaki tua melinting tembakau, dan di luar suara kera bersautan, "atau rajamu lewat?"

Di telinganya suara-suara dari hutan bukan sekadar suara.

Ia diajari oleh ayahnya untuk memahami bahasa-bahasa hutan. Mulai dari jika ada desau daun hingga derik-derik yang seakan paling sia-sia.

Di sebelah barat, ada lereng hutan, di mana di dalamnya beberapa orang, bekerja sama dengan penduduk asli, membuat tempat penyulingan nilam, melewati pagar kawat listrik. Kawat itu sudah lama dipotong. Ada yang buat jemuran, ada yang buat pengikat, dan sebagainya. Jadi, sekarang, tanpa fungsi.

"Para Raden jadi leluasa turun untuk merampok milik kami," lelaki tua meneruskan bicara sendiri, toh, tidak ada yang dengar.

"Atau kami yang sebenarnya merampok miliknya?"

Dua jam lewat dari pukul delapan, dan seperti yang ditandai, sebentar lagi Raden akan datang.

Dia benar, geraknya terdengar!

Lelaki tua mematikan lampu badainya. Ia berjaga dengan senter yang dimatikan di ikat pinggang.

Nikmati dulu malammu, karena kedua panglima agung, tidak langsung menyerang di tatapan pertama, lelaki tua mensyair dialog-dialog perang syahid. Meski gelap, ia memahami ruang kebun kemahnya. Konon, ia rajin merendam matanya dengan air bacaan Asmaa'ul Husna.

Lelaki tua membelah jalur di antara padi gaga, pada dataran tinggi. Ia menghadapi petarung tangguh untuk melawan ketakutan dan penyesalan. Ia ingin melihat kekuatan dan kelemahan dirinya.

Ia memakai lengan panjang dan taring-taring padi berguncang dalam kegelapan.

Klap! Ia menyorotkan senter ke arah Raden.

Dan itu berarti serangan pertama bagi Raden; yang terlihat tua, tampan, dan berkarakter dan berbobot sekitar seratus lima puluh kilo. Ia lahir dari generasi purba di hutan ini, pengelana paling primitif.

Raden langsung menyerang ke arah lelaki tua, yang nampak jelas di matanya, meski fase bulan sedang dalam puncak gelap. Lelaki tua menghindar dengan mengarahkan bambu runcing yang sayang hanya menggores bagian pinggul Raden, hingga berdarah, dan Raden menjerit, bergerusak di antara padi gaga.

"Pembuka yang bagus," lelaki tua itu mengarah pada gerusak itu.

"Bisa kamu ceritakan pada anak cucu soal lukamu itu, kecuali, kamu mati hari ini!"

Lelaki tua mendekat, senter menyala di kiri, kaki menyingkar batang-batang padi gaga. Ia acungkan bambu runcing. Dan pada singkaran berikutnya, slak!

Raden menyerang!

Lelaki tua itu terlambat bergerak, taring Raden mencabik hingga kedalaman tulang kering kaki kanan lelaki tua. Ia terpelanting di merubuh padi gaga. Sementara Raden, nampak kesatria; tidak menyerang lawannya yang lemah. Lelaki tua itu menyorot ke arahnya, ke arah taring yang berlepot darah, ia terkejut pada sikap Raden.

Terpincang. Ia nahan ngilu sampai inti tulang. Beringsut ia coba ke kemah, mencari senjata lain. Parang atau bambu runcing yang satunya. Yang tadi itu, terpelanting entah ke mana.

"Tidak adil kalau kamu punya taring dan aku hanya punya gigi palsu!"

Raden yang langkahnya mengikuti. Sama-sama bergerusak di antara padi gaga, seakan mereka dua petinju yang menjaga jarak di atas ring kegelapan.

Ia mampu meraih parangnya. Tapi Raden sudah dekat, ia ada di depan kemah juga. Di sini, lelaki tua boleh mengenali ring, tapi tempat ini juga tanpa tanaman hingga Raden mampu bergerak dengan gesit, cepat, dan mematikan. Lelaki tua mencari akal. Ia berpikir akan melempar senter ke sudut kanan, hingga Raden mengira orangnya ada di sana.

Ia melemparkan senter. Mengira Raden ke arah sana? Tidak! Raden langsung menyerang ke posisi lelaki tua.

Lelaki tua melawan serudukan taring dari hidung menonjol dengan parang. Bunyinya berdentak keras! Raden kesakitan, dan laki tua itu terjungkal ke belakang.

Raden yang kesakitan kini mulai kehilangan kebijaksanaan, ia langsung berbalik dan menyerang kembali lelaki tua.

Lelaki tua itu bangkit dan mengayunkan parang ke arah kepala Raden, menyabik, tapi terpental kemudian. Kepala itu seakan terbuat dari campuran daging dan sabut kelapa. Raden mengarahkan ke perut lelaki tua, mampu ditadah dengan kedua tangan, namun taring Raden segera mencabik kedua tangan itu. Lelaki tua mendengang dengan kakinya ke arah yang diduga mata Raden, benar saja, Raden mundur, tetapi lelaki tua itu kini sudah terluka parah, lebih dari itu, dia sendirian dan fase bulan adalah puncak kegelapan.

Raden bersiap dan dengusnya terasa akan memberikan tandukan dan cabikan maut dengan taringnya.

Lelaki tua itu sudah tidak dapat bergerak, seakan maut sudah menancapkannya tubuhnya di sana.

Dan Raden menguik, menderam, kemudian berlari, slap!

Lelaki tua itu menjerit paling keras, jeritan ketakutan dan kematian, dan mengira dia kini telah remuk dan mati.

Namun, Raden hilang dari hadapannya.

Yang ia dapati adalah suara deram dan nguik di sebelah barat dengan dua mata senter kecil yang berkelebat sesekali. Lelaki tua itu tahu, siapa yang baru saja datang dan menerkam Raden. Ya, Eyang. Selama ini Eyang hanya diketahuinya lewat di antara kebunnya, terutama sejak kawat-kawat listrik itu diputus. Dan ia tidak pernah mengira akan menyaksikan sedekat ini kebuasannya. Ia mendengar cabikan, deram, gemeletuk tulang diremuk, nguik-nguik, dan bau kematian Raden.

Tak lama setelah itu, terdengar suara-suara manusia sayup di kejauhan lembah. Lampu senter disorot mencari. Jeritan lelaki tua membangunkan tidur dan curiga.

Eyang, si Harimau, merasa terancam kedatangan cahaya dan kelompok manusia. Ia lekas dan menggait, dengan taringya, paha hitam si Raden, si Babi Hutan didikan purba. Lelaki tua itu menahan luka berdarah yang memanas dan tulang patah yang ngilu. Ia menunggu orang-orang, juga si Tetangga, di antara gelap dan padi gaga.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved