Breaking News:

Cerpen Eko Triono

Ia Memutuskan untuk Melawan Raden

IA memutuskan untuk melawan Raden, justru ketika bulan memasuki fasenya yang paling gelap di Lembah Nilam, pedalaman Aceh Barat.

Ilustrasi Ia Memutuskan untuk Melawan Raden 

"Setidaknya itu yang bisa dilihat orang," kata lelaki tua.

Lelaki tua itu sebenarnya bukan penduduk asli, dalam arti tidak lahir di sana, ia pendatang, sebagaimana ia pendatang yang lahir di Jambi, kemudian ke Riau, dan di daerah-daerah lain untuk ikut menggarap perkebunan.

Ketika muda, ia tidak pernah berani terlau jauh mengambil risiko. Ia terlalu takut terluka dan mati. Ketika ditodong di wilayah Medan, ia lebih memilih memberi uang daripada bertarung dengan tangan kosong, meski ia pernah ikut pencak silat.

"Aku takut mati dan mematikan," pikirnya, "takut terluka dan melukai."

Dan di masa tua, pada malam ketika bulan justru memasuki fasenya yang paling gelap, ia memutuskan untuk melawan Raden.

Ia tahu, orang tua toh hanya menunggu mati. Dan malam di Lembah Nilam tanpa listrik. Lepas Isya, lelaki tua menyalakan lampu badai yang ia beli dari nelayan di Meulaboh.

Di tangan kanan, ia menenteng bambu runcing yang diikat bersama parang, kemudian dalam kantong gandum ada senter, obat nyamuk, serta termos kecil dan perangkat gelas kopi dari seng, dan di tangan kiri ada lampu badai beserta alamat kematian Raden.

Ia lurus lewat kebun belakang rumah. Ia menempuh jalan setapak; agak menanjak di antara tanaman kacang tanah, singkong, kemudian padi gaga.

Luas kebun tiga ratus tiga puluh kali seratus lima meter. Paling ujung berbatasan dengan hutan lindung purba, tempat para Raden bersembunyi.

Ia sampai di kemahnya, yang didirikan untuk menjaga kebun; terbuat dari terpal hitam. Ia menggelar tikar pandan yang disimpan di sana dan menata peralatan.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved