Seni dan Budaya

Ada Bedah Buku Tentang Aksi Petani 'Bersenjatakan' Kidung yang Puitis

Dalam buku atau disertasi ini, Sobary yang pensiunan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan . .. itu memaparkan . . .

ISTIMEWA
Ilustrasi: Sampul depan buku Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Buku yang lahir dari sebuah disertasi berjudul "Perlawanan Politik dan Puitik (Ekspresi Politik Petani Temanggung)" yang ditulis Mohamad Sobary telah menarik sejumlah budayawan, sastrawan, pengamat, dan pencinta sastra umumnya untuk membahas dan mengupasnya dalam sebuah diskusi.

Buku yang menceritakan tentang ungkapan protes unik dari petani tembakau di Temanggung untuk pemerintah ini sesuai dengan rilis yang diterima Tribun, Minggu (18/9/2016) akan dibahas dalam acara Bedah Buku di Gedung Indoneseia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Kota Bandung, Selasa (20/9) mulai pukul 15.00 WIB.

Bedah buku itu akan menghadirkan pembahas yang di antaranya, Hawe Setiawan, Haris Jauhuari, Dede Muyanto, dan Andi Sri Wahyudi.

Dalam buku atau disertasi ini, Sobary yang pensiunan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sempat menjabat sebagai Pemimpin Umum Kantor Berita Antara itu memaparkan bahwa petani tembakau menolak Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif produk tembakau bagi kesehatan.

Dalam mengungkapkan protesnya melalui puisi, petani tembakau di Temanggung menggunakan puisi berjudul "Manunggaling Kawulo Alit," yang berarti menyatunya rakyat dengan penguasa. Protesnya juga dituangkan dalam bentuk drama tari "Tundung Kolo Bendu" yang menceritakan soal ketentraman masyarakat, yang diusik oleh tokoh Polo Miris dan Saudagar Bolang-baleng.

“Puisi dan drama tersebut sebagai jeritan petani tembakau kepada pemerintah, yang telah mengeluarkan sehingga menekan para petani, serta menguntungkan pihak asing. Puisi tersebut kerap dibacakan di setiap aksi protes,” ujarnya.

Para petani Temanggung “berperang” dengan “senjata” kidung yang puitis. Mereka berperang dengan mantra yang memancarkan religio-magisme yang mencekam. Mereka pun berperang dengan ritus yang menyajikan suasana kudus, dengan sajen yang menghubungkan dunia ini dengan dunia sana, yang menciptakan keyakinan. (*)

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved