Hasil Penelitian

Orangtua Hati-hati! Anak Terbiasa Main dengan Barbie Tumbuh Tak Percaya Diri

Boneka Barbie yang cantik dengan padanan busana berwarna cerah memang sangat menarik perhatian banyak anak perempuan di dunia.

Orangtua Hati-hati! Anak Terbiasa Main dengan Barbie Tumbuh Tak Percaya Diri
KOMPAS.com/Intisari-Online.com
Seorang ilmuwan terkenal menyatakan bahwa anak wanita harus membuang mainan boneka Barbie dan mulai memainkan mainan Lego atau Meccano. Hal ini dilakukan jika orangtua ingin anaknya lebih tertarik pada ilmu pengetahua adan teknik. 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Lebih kurang 70 tahun, boneka Barbie telah menjadi ikon mainan favorit anak perempuan.

Boneka Barbie yang cantik dengan padanan busana berwarna cerah memang sangat menarik perhatian banyak anak perempuan di dunia.

Namun, para orangtua harus hati-hati dan waspada dengan kebiasaan anak perempuan bermain Barbie.

Sebab, sebuah studi menunjukkan bahwa Barbie memberikan dampak buruk terhadap perkembangan citra diri anak perempuan, terutama ketika mereka tumbuh dewasa.

Selain itu, peneliti juga menemukan, Barbie bisa membawa anak perempuan menderita gangguan makan, seperti aneroksia dan bulimia.

Beberapa waktu lalu, Mattel, perusahaan pencipta dan distributor resmi Barbie merilis boneka dengan bentuk tubuh menyerupai wanita pada umumnya.

Barbie baru itu hadir dengan tubuh berisi, ragam warna kulit, dan tinggi tubuh.

Namun, kehadiran seri baru tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan. Setidaknya, begitulah hasil penelitian ini.

Studi menemukan bahwa anak perempuan berusia enam hingga delapan tahun yang sering main boneka Barbie sedari usia tiga tahun tumbuh dengan rasa tidak puas pada bentuk tubuh sendiri.

Responden anak-anak perempuan memperlihatkan sikap tidak percaya diri, baik pada penampilan maupun kemampuan mereka.

Lalu, studi juga mengungkapkan, anak-anak perempuan telah mengenakan riasan wajah pada usia pra-remaja karena ingin berparas cantik seperti Barbie.

Dr Kathleen Keller, pakar nutrisi dan ilmuwan pangan, dari Pennsylvania State University, menuliskan pada jurnal Body Image bahwa anak-anak perempuan memiliki emosional yang labil dan mudah terpengaruh.

“Pada masing-masing eksperimen, kami melihat anak perempuan menginginkan memiliki tubuh dan wajah seperti boneka mereka. Hasil studi ini memperlihatkan, waktu bermain dan alat permainan memiliki peran penting pada fase tumbuh kembang anak,” urainya.

Dia menyarankan bahwa sebaiknya orangtua memilihkan mainan boneka dengan bentuk dan wajah yang masuk akal.

“Belikan anak ragam jenis permainan, jangan hanya boneka Barbie. Satu hal yang sangat dianjurkan adalah mengizinkan anak untuk bermain dan banyak beraktivitas di luar ruangan,” pungkasnya. (Daily Mail/Kompas.com)

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved