Breaking News:

Cerpen Wida Waridah

Tamparan Pak Martabat

"SAYA akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak ...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Tamparan Pak Martabat 

**

INI pipi ketujuh yang ditamparnya. Semester ganjil yang benar-benar ganjil. Pak Martabat di masa tuanya harus berhadapan dengan sebuah kelas yang menguras seluruh kemarahannya. Kelas edan, pikirnya.

Pelajaran pertama di kelas itu adalah pelajaran Kimia. Pak Martabat akan selalu masuk tepat waktu. Menjelaskan beberapa teori, lalu berakhir dengan anak-anak diminta untuk menyelesaikan soal-soal yang ditulisnya di papan tulis.

Selepas menuliskan soal-soal di papan tulis itu, Pak Martabat akan keluar menuju ruang guru, berbincang sebentar dengan guru lain jika ada, lalu bergegas menuju kantin.

Biasanya dia akan mengisap dua atau tiga batang rokok sambil menyesap kopi, sebelum akhirnya kembali ke kelas, meminta beberapa muridnya untuk maju, menyelesaikan soal-soal itu.

Namun entah kenapa, setiap masuk ke kelas unggulan, kelas edan itu—konon murid-murid di dalamnya adalah yang memiliki nilai paling tinggi saat mereka masuk ke SMA tersebut—selalu saja Pak Martabat berhadapan dengan seorang anak pembangkang.

Seperti hari ini, saat dia memasuki kantin untuk memesan kopi, dia melihat seorang anak laki-laki duduk di pojok kantin, mengisap rokok sambil memainkan telepon genggamnya. Pak Martabat mengenali anak laki-laki itu.

Akva. Murid laki-laki yang agak pendiam tapi cukup pintar itu seharusnya ada di kelasnya, menyelesaikan soal-soal di papan tulis. Kenapa muridnya itu malah mendahuluinya memasuki kantin? Kenapa anak itu tidak belajar dari kesalahan teman-temannya yang sudah lebih dulu menerima tamparan tangannya?

Amarah guru tua itu mencapai puncaknya. Pak Martabat menarik kerah seragam Akva, menyeretnya memasuki laboratorium kimia yang kosong, lalu telapak tangan kanannya mendarat di pipi kiri muridnya itu.

"Saya akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Tamparan saya yang barusan itu belumlah seberapa jika dibandingkan dengan perasaan teman-teman sekelasmu. Mereka mengerjakan tugas di kelas, lalu kamu nongkrong di kantin seenaknya. Kamu telah mengkhianati mereka. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak di hadapan Akva yang tengah menunduk.

"Apakah Bapak tak ingat bahwa Bapak mengatakan hal yang kurang lebih sama kepada saya dan lima teman-teman saya lainnya? Apakah Bapak tak menyadari bahwa tamparan Bapak adalah hal yang sebetulnya kami harapkan? Sebab, setelah Bapak menampar kami, Bapak akan memberi kami kebebasan untuk tidak mengerjakan soal-soal itu. Kami bergiliran ke kantin, menunggu Bapak menampar kami. Agar kami bebas dan tidak belajar. Apakah Bapak tidak menyadarinya?" Satya, murid laki-laki yang ditampar Pak Martabat minggu lalu, tiba-tiba muncul.

Pak Martabat, yang tengah di puncak amarahnya itu, seketika ternganga. Semuanya kini terang benderang. Dia telah memberikan apa yang sebetulnya diinginkan murid-muridnya. Mereka rela mengorbankan diri mereka ditampar hanya untuk bebas dari soal-soal Kimia yang ditulisnya di papan tulis.

Seketika itu juga, Pak Martabat merasakan kedua pipinya begitu panas, telinganya mendenging nyaring. Seolah-olah telah menerima seribu tamparan.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved