Sabtu, 11 April 2026

Tjimahi Heritage Trail

Serunya Naik Ranpur Meriam GS 105 Saat Jelajah Sejarah Pusdik Armed

Di sini juga ada meriam 76mm, tahun 1948 dari Yugoslavia yang menjadi meriam paling tua dan masih berfungsi. Biasanya kami pakai untuk latihan

Editor: Machmud Mubarok
TRIBUN JABAR/MACHMUD MUBAROK
Peserta Tjimahi Heritage Trail berfoto bersama di depan dan atas kendaraan tempur saat Jelajah Sejarah Pusdik Armed di Pusdik Armed Baros Cimahi, Minggu (28/8). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman

CIMAHI, TRIBUNJABAR.CO.ID - MERIAM Honisut kaliber 19,01 cm buatan Inggris 1942, berdiri gagah tepat di depan pintu masuk utama Pusdik Armed, seolah menyapa setiap orang yang datang ke salah satu markas TNI tersebut. Minggu (28/8) pagi, anggota komunitas Tjimahi Heritage berkumpul di lapangan parkir Pusdik Armed. Mereka antusias untuk mengikuti kegiatan jelajah sejarah Pusdik Armed.

Pusdik Armed merupakan salah satu tempat pendidikan militer di Kota Cimahi yang menyimpan pesona menarik. Sesuai namanya, tempat ini merupakan sarana pendidikan para TNI menggunakan artileri medan.  Artileri secara umum merupakan sebutan untuk persenjataan atau pengetahuan kesenjataan. Pasukan ini menggunakan meriam sebagai senjata.

Kapten Arm Eri Gunawan bersama Sersan Mayor Kamaludin Syam, yang memandu jelajah sejarah tersebut, mengajak anggota komunitas Tjimahi Heritage berkeliling ke tempat-tempat bersejarah seperti komplek perumahan dinas zaman Belanda, menyaksikan bagaimana para TNI mengoperasikan meriam dalam pertempuran. Di akhir kunjungan, anggota Tjimahi Haritage, mendapat kesempatan menaiki kendaraan tempur meriam 105 mm GS (gerak sendiri) secara bergantian.

Eri bersama Kamaludin menjelaskan satu demi satu sejarah dari bangunan dan meriam yang berasal dari berbagai negara seperti Swis, Jepang, Prancis, Yugoslavia, dan Inggris.

"Di sini juga ada meriam 76mm, tahun 1948 dari Yugoslavia yang menjadi meriam paling tua dan masih berfungsi. Biasanya kami pakai untuk latihan," ujar Eri, didampingi Kamaludin, di sela acara Jelajah Sejarah Pusdik Armed, Minggu (28/8).

Menurut Eri, Kota Cimahi banyak menyimpan sejarah militer. Sebab, menurut Eri, Cimahi merupakan garnisun atau tempat kedudukan tentara terbesar di Indonesia, yang didirikan Kolonel Fishcer dan Kapten Slors dari Zeni tahun 1886.
Secara bertahap, kata Eri, Belanda menyerahkan markas-markas militernya kepada Indonesia, termasuk Pusdik Armed yang baru diserahkan secara resmi pada 1951. "Sebelum dijadikan markas pasukan artileri, di sini dulu markas pasukan kavaleri Belanda," katanya.

Ditemui di tempat yang sama, Ketua Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, mengaku sudah lama menantikan kesempatan untuk menggali sejarah di markas militer itu. Awalnya, kata Machmud, banyak orang segan ketika ingin masuk ke kawasan militer. Namun, setelah ditempuh prosedur dengan mengirim surat dan audiensi, akhirnya komunitas Tjimahi Heritage mendapat izin untuk menggelar Jelajah Sejarah Pusdik Armed.

"Ternyata mereka (TNI) juga antusias dengan kegiatan ini, karena mereka juga ingin masyarakat tahu apa saja yang ada di Pusdik Armed ini," ujar Machmud.

Menurut Machmud, siapa pun bisa menjelajahi Pusdik Armed. Sebab, Pusdik Armed memiliki program Pembinaan Teritorial (Binter) yang kegiatannya untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat. Selain Pusdik Armed, Mahmud berharap Pusdik lain di Kota Cimahi bisa terbuka agar memudahkan masyarakat melakukan wisata sejarah militer.

"Karena setelah melakukan jelajah ini, kami jadi tahu ternyata di dalam Pusdik Armed ini ada Meriam Verenigde Oost Compagnie (VOC) abad 18, Meriam Sapu Jagat, 1856 yang murni terbuat dari kuningan dan masih mulus, kemudian ada juga barak-barak tua yang didirikan akhir abad 19," katanya.

Selanjutnya, Machmud bersama anggota Tjimahi Heritage, berencana mengunjungi Pusat Pendidikan Pengetahuan Militer Umum (Pusdik Pengmilum). Machmud mengatakan di Pusdik Pengmilum masih ada bangunan asli yang bernilai sejarah dan menjadi satu-satunya yang tersisa. "Mudah-mudahan ketika berjunjung ke sana kami bisa menyampaikan pesan agar bangunan itu tidak dirobohkan," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved