Teras

Literasi

Sayangnya, negara kita dalam soal literasi berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei.

Literasi
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

Oleh: Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar

LITERASI berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis. Dalam bahasa Inggris, literacy diartikan: berhubungan dengan pemberantasan buta huruf. Dalam Kamus Latin Proverb susunan B.J. Marwoto dan H. Witdarmono ada ungkapan littera scripta manet, yang artinya yang sudah tertulis akan tetap tertulis.

Anies Baswedan, waktu jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menekankan pentingnya literasi. Salah satu programnya adalah para pelajar dibiasakan membaca selama 15 menit sebelum mulai kegiatan belajar. Walikota Bandung Ridwan Kamil pun memahami pentingnya gerakan literasi. Jadi, gerakan literasi ini mengarahkan pada kebiasaan membaca, apakah buku atau media, dengan serius.

Apa pentingnya membaca dan menulis? Bukankah banyak kegiatan yang lebih berguna? Misalnya berbinis, berpolitik, berolahraga, atau kegiatan lainnya yang langsung mendatangkan manfaat, terutama mendatangkan uang. Kalau punya pendapat seperti ini, sebaiknya sekolah dari mulai taman kana-kanak hingga perguruan tinggi dibubarkan saja, karena tak ada gunanya.

Inti dari mencari ilmu pengetahuan, termasuk mendidik diri sendiri serta menumbuhkan budi pekerti, terletak pada disiplin membaca dan menulis. Tidak heran Unesco menetapkan standar waktu membaca itu antara 4 sampai 6 jam dalam sehari. Asumsinya, kalau kita membiasakan menghabiskan waktu 4 sampai 6 jam sehari, kehadiran seorang manusia tidak terlalu tolol, apalagi buta. Lebih jauhnya, tidak bisa dibodohi oleh orang lain, tak mau membodohi orang lain, tidak berlaku bodoh, mandiri dan inovatif. Pendeknya, kaya ilmu pengetahuan, mampu berinovasi, sekaligus bermoral.

Sayangnya, negara kita dalam soal literasi berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Berdasarkan hasil pengumuman pemeringkatan literasi yang diselenggarakan oleh Central Connecticut State University, AS, tahun ini, bangsa Indonesia hanya memanfaatkan waktu 2 sampai 4 jam sehari untuk membaca. Padahal di negara maju, masyarakatnya menghabiskan waktu 6 sampai 8 jam sehari. Jadi, kita masih di bawah standar Unesco.

Tentu saja sangat memprihatinkan. Padahal, kalau kita menengok ke masa silam, ke alam pergerakan dan alam kemerdekaan, kita berhasil menyingkirkan kolonial bermula dari kesadaran orang-orang yang membaca buku. Beberapa kali kita mencoba melawan penjajah dengan bermula dari angkat senjata, tapi selalu gagal. Maka muncullah orang-orang yang membaca, seperti Tirto Adhisuryo, Tjokroaminoto, Semaun, Soepomo, Wahidin, Ki Hajar Dewantara, Agus Salim, lalu Soekarno, Hatta, Roem, Syahrir, Tan Malaka, Sutan Takdir Alisyahbana, dan mereka yang berhasil menentang kezaliman Soekarno seperti Mochtar Lubis dan So Hok Gie.

Gerakan literasi sengaja diputus oleh rezim Soeharto dengan dalih stabilitas lebih berharga sebagai basis pembangunan. Pembangunan dalam kacamata Soeharto adalah pembangunan ekonomi, minus pembangunan intelektual. Sebetulnya di era Soeharto ada yang baik, ketika ia mengeluarkan kebijakan buku inpres, yaitu buku-buku bacaan untuk anak sekolah. Namun buku tersebut terbatas pada buku- buku cerita anak-anak, sementara buku-buku seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer dilarang beredar. Apalagi buku-buku beraliran kiri seperti buku Marxisme. Padahal teori Marx sangat penting untuk menganalisis ketimpangan sosial, dan di negara maju yang kapitalistik, di mana ilmuwannya banyak mengkritik gagasan Marx, justru buku-buku karya Marx tumbuh subur dan dipelajari.

Kesuksesan Orde Baru memutus budaya literasi akhirnya berlanjut ke masa reformasi. Kebiasaan membaca di kalangan masyarakat, seperti hasil survei tadi, sangat memilukan, berada di peringkat buncit, ke-60 dari 61 negara. Karena rapuhnya budaya literasi itulah Anies Baswedan menanamkan pada anak didik mulai tingkat dasar untuk membiasakan diri membaca selama 15 menit. Ini merupakan penyemaian benih, dengan harapan tumbuh pada pelajar kesadaran untuk melanjutkan kebiasaan membacanya. Hal yang sama dilakuakn oleh Wali Kota Bandung walaupun implementasinya belum jelas, yaitu baru komitmen, harus kita hargai.

Kalau melihat dari buku-buku yang terbit, buku-buku yang berkualitas masih didominasi oleh penulis luar negeri. Kegiatan literasi dengan harapan tumbuh penulis yang berkualitas masih terlalu mimpi. Paling tidak, yang diharapkan tumbuh adalah kegiatan membaca.

Sayangnya, ketika benih kebiasaan membaca di kalangan anak muda mulai menunjukkan geliatnya, seperti banyaknya diskusi dan taman bacaan, muncul juga riak-riak antitesis yang memalukan. Seperti yang terjadi minggu kemarin, peristiwa aparat TNI dari Kodam Siliwangi membubarkan kegiatan perpustakaan jalanan, jelas tindakan bodoh dan bikin malu di mata internasional. Apa yang ditakutkan dari kegiatan membaca? Kita ini negara demokrasi di mana hak asasi manusia untuk berkumpul dan mencari ilmu dijamin konstitusi. Hanya di negara komunis pemerintahnya yang takut pada buku. Aparat TNI jangan mengulang kesalahan masa lalu. (*)

Naskah ini juga bisa dibaca di edisi cetak, Tribun Jabar, Senin (29/8/2016). Ikuti berita menarik lainnya di twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: cep
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved