Sabtu, 11 April 2026

Setara Institute: Tindakan TNI Membubarkan Komunitas Perpustakaan Jalanan Itu di Luar Batas

tindakan razia merupakan tindakan melawan hukum sebab tidak ada kewajiban izin bagi siapapun yang bermaksud menyelenggarakan kegiatan.

Editor: Machmud Mubarok
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
Beredar kabar tentang kekerasan oknum aparat TNI di Bandung melalui media sosial akun facebook Perpustakaan Jalanan. Akun facebook Perpustakaan Jalanan itu memosting rilis soal upaya penertiban paksa dan kekerasan yang terjadi di ruang publik. Adapun postingan rilis itu muncul empat jam yang lalu, Senin (22/8/2016). 

)

JAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Ketua Setara Institute Hendardi menilai TNI telah bertindak di luar batas dengan membubarkan kegiatan Komunitas Perpustakaan Jalanan di Kota Bandung pada Sabtu lalu (20/8/2016) yang dilakukan oleh anggota Kodam III Siliwangi.

Menurut Hendardi, alasan Kodam III Siliwangi melakukan pembubaran tersebut untuk mengantisipasi kericuhan gang motor tidak bisa dibenarkan, sebab Militer tidak memiliki kewenangan melakukan razia, termasuk merazia geng motor.

"Pembubaran itu merupakan tindakan di luar batas kewenangan TNI. Soal ketertiban dan keamanan adalah kewenangan Polri, bukan tugas TNI," ujar Hendardi melalui keterangan tertulisnya, Selasa (23/8/2016).

Hendardi menjelaskan, tindakan razia merupakan tindakan melawan hukum sebab tidak ada kewajiban izin bagi siapapun yang bermaksud menyelenggarakan kegiatan. Perkumpulan Perpustakaan Jalanan di Bandung, kata Hendardi, sebenarnya cukup memberi tahu kepada pihak kepolisian setempat dan bukan kepada TNI.

"Harus diingat, bahwa tidak aturan soal meminta izin, karena itu tindakan Polri maupun TNI melakukan razia merupakan tindakan melawan hukum," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Komunitas Perpustakaan Jalanan Kota Bandung mengaku dibubarkan TNI di Cikapayang Dago, Sabtu malam (20/8/2016) tanpa alasan yang jelas.

Koordinator Komunitas Perpustakaan Keliling Jalanan, Ridwan Indra (28) menjelaskan, pada Sabtu malam memang ada sweeping klub bermotor oleh TNI.

TNI yang ada dalam operasi tersebut berjumlah sekitar 40 orang menumpangi dua truk dam mobil polisi militer serta kendaraan pribadi. Di tempat yang sama, anak-anak komunitas tengah menjajakan buku. Lalu TNI menghampiri komunitas itu dan meminta membubarkan diri.

"Saat teman-teman di jalanan Bandung menjajakan buku, tiba-tiba datang pasukan TNI dengan pakaian dinas dan preman. Namun satu orang yang menggunakan pakaian preman dengan membawa HT tersebut tiba-tiba memukul salah satu rekan kami," ucap Ridwan di LBH Bandung, Senin (22/8/2016).

(BACA JUGA: Kodam III/Siliwangi Bantah Melakukan Pemukulan Aktivis Perpustakaan Jalanan)

Ridwan mengaku mengetahui ada razia klub bermotor tiga minggu ke belakang ini. Namun Sabtu kemarin, baru ada kejadian penganiayaan terhadap salah satu rekannya. Karena itulah, pihaknya datang ke LBH untuk berkonsultasi hukum sekaligus menentukan sikap terhadap oknum TNI tersebut.

"Langkah ke depan masih menunggu. Untuk korban saat ini dalam keadaan baik, kami hanya mengecam aksi represifnya saja," imbuhnya.

Pihaknya mengecam penertiban yang dilakukan TNI dengan cara intimidatif dan penuh kekerasan. Mereka pun menyatakan sikap menolak TNI kembali masuk ke kehidupan sipil, serta menghentikan sweeping.

Sementara itu, Kapendam III Siliwangi Letkol ARH M Desi Ariyanto membantah ada anggotanya yang melakukan pemukulan.

"Tidak ada prajurit TNI dalam hal ini Kodam III Siliwangi yang melakukan tindak pemukulan. Yang ada adalah beberapa anak muda berkumpul malah membentak-bentak petugas yang sedang melakukan tindakan penertiban," tutur Ariyanto dalam keterangan persnya. (*)

Sumber: Kompas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved