SOROT

Bonus

Iming-iming bonus sudah diapungkan sebelum para atlet terbang ke Rio

Bonus
TRIBUN JABAR
Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun. 

Oleh Deni Ahmad Fajar
Wartawan Tribun Jabar

INDONESIA menempati posisi kedua sebagai negara yang memberi bonus uang terbesar di Olimpiade Rio 2016. Indonesia hanya kalah oleh Singapura dalam urusan memberi bonus kepada atlet-atletnya yang meraih medali di Olimpade 2016. Di bawah Indonesia ada Azerbaijan. Untuk atlet peraih medali emas, Indonesia memberi bonus Rp 5 miliar. Singapura menyediakan hampir Rp 10 miliar bagi atletnya yang meraih medali emas, dan Azerbaizan menjanjikan lebih dari Rp 3 miliar bagi atlet peraih emas Olimpiade Rio De Janiero, Brasil.

Iming-iming bonus sudah diapungkan sebelum para atlet terbang ke Rio. Tujuannya jelas, agar atlet terpicu semangatnya untuk tampil maksimal dan merebut medali (emas). Bila ternyata gagal mendulang medali, uang batal masuk saku atlet.

Pasangan Liliana Natsir dan Tontowi Ahmad yang menyabet medali emas di nomor ganda campuran bulu tangkis, berhak atas bonus Rp 5 miliar yang dijanjikan. Sri Wahyuni, atlet angkat besi asal Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, membawa pulang bonus Rp 2 miliar. Uang sebanyak itu menjadi hak Yuni (demikian Sri Wahyuni akrab disapa) yang meraih medali perak angkat besi kelas 48 kg.

Tabungan Yuni makin menggelembung karena Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat seperti berlomba ingin memberikan uang kadeudeuh (bonus) kepada Yuni. Bila tidak, alamat kuping akan panas diomongkan banyak pihak. Pemkab Bandung dan Pemprov Jabar tentu tidak mau dituding sebagai pemerintah yang tidak nyaah kepada warganya yang berprestasi.

Pemberian bonus kepada atlet berprestasi bukan kesalahan apalagi sesuatu yang haram, bukankah MUI tidak mengeluarkan fatwa haram atas bonus bagi atlet. Atlet pun akan dengan suka cita menerima bonus uang miliaran rupiah. Dengan bonus yang dijanjikan, harus diakui, atlet terpacu adrenalinnya untuk bisa tampil di podium menerima medali. Padahal dengan atau tanpa bonus, atlet apa pun tidak ada yang menargetkan kalah setiap kali masuk arena.

Seandainya pemerintah sudah memperhatikan atlet secara maksimal, rasanya tidak perlu lagi janji-janji bonus uang dengan nominal super jumbo dijadikan umpan agar atlet mencapai prestasi tertinggi. Seandainya pemerintah sudah menyediakan sarana dan prasana olahraga selengkap mungkin, seandainya kesejahteraan atlet sudah menjadi tanggung jawab pemerintah, rasanya atlet-atlet kita akan mencatat prestasi gemilang di berbagai arena olahraga internasional, termasuk di Olimpiade yang prestisius itu. Sayangnya pemerintah kita abai terhadap semua itu. Sebagai contoh, pemerintah baru sibuk membangun sarana dan prasarana olahraga ketika ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games atau PON. Tanpa itu, atlet dibiarkan berlatih di arena yang morat-marit dan peralatan seadanya. Bukan rahasia banyak atlet yang harus merogoh kantong sendiri untuk berlatih dan mencapai prestasi terbaik.

Dengan menempatkan atlet sebagai aset bangsa dan negara yang berharga, Amerika Serikat, Inggris, dan Cina, tidak perlu berlomba-lomba menyediakan bonus uang super jumbo. Dengan menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan modern, AS, Inggris, dan Cina, terbukti selalu mendulang medali di ajang-ajang olahraga internasional, termasuk Olimpiade Rio 2016.
Tanpa iming-iming bonus uang segunung, atlet-atlet AS, Inggris, dan Cina, tetap menunjukkan prestasi terbaiknya. Tampaknya iming-iming bonus besar hanya dijanjikan oleh-oleh negara yang tidak punya tradisi mendulang medali. ***

Penulis: Deni Ahmad Fajar
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved