Breaking News:

Cerpen Toni Lesmana

Cerpen R

RAKIN sudah bugil. Berlari-lari dalam kamar. Berlari gelisah dalam kepungan tulisan huruf R yang memenuhi tembok kamarnya. Kamar yang hijau.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen R 

Rakin sudah berlari di dalam pasar. Pasar yang remang dan sepi. Kepala gundul nyelonong sepanjang los pasar yang kosong. Jongko-jongko melompong mirip layar laptop Rakin sepanjang tujuh hari tujuh malam. Kepala gundulnya menyundul ke sana-kemari. Seisi pasar dijelajahi. Nihil. Hanya kekosongan yang menakutkan. Mirip sebuah rumah hantu.

Kumis tikus muncul di mana-mana. Cericit.

Rakin merinding. Di mana Rasa. Di mana Buloh.

Tangannya cepat merogoh ponsel. Gesit memijit. Pulsa habis. Panik. Ponsel dibanting. Pecah. Kring. Dering ponsel di mana-mana. Keping-keping ponsel berdering. Rakin semakin panik. Sepasang matanya kini hijau tua. Seperti lumut.

Tikus-tikus memburu serpih dan keping ponsel. Memburu dering. Rakin mengusir tikus, memungut setiap dering. Dikumpulkannya di atas telapak tangan. Didekatkan ke kuping. Dering makin nyaring. Dering membanjiri isi kepalanya.

Kini Rakin mendengar dering dalam kepalanya. Kepalanya yang gundul berdering. Kupingnya berdering. Matanya berdering. Hidungnya berdering. Bibirnya berdering. Giginya berdering. Lidahnya berdering.

Seluruh tubuh Rakin berdering. Rakin membenturkan kepala ke tiang listrik. Dering berhenti.

"Nah, gitu dong diangkat!" Buloh berkaok-kaok mirip gagak. Rakin meringis. Buloh berteriak dari dalam kepalanya.

"Woy, aku sudah di pasar! Di mana Rasa?" Rakin berteriak-teriak sambil terus berlari. Mengelilingi pasar. Tak ada kribo Buloh. Tak ada senyum Rasa.

"Aku juga di pasar. Pasar yang ada di kepalamu! Ayo tebak, di manakah Rasa berada? Ha-ha- ha!" Buloh berkaok lagi. Diakhiri tawa panjang yang kasar penuh dahak.

Rakin memegang kepala. Menarik-narik kepala gundulnya, seperti ingin mencopotnya dari leher. Seperti ingin mencabut kepala gundul yang semakin licin oleh keringat. Rakin sibuk sendiri ingin melucuti setiap bagian tubuhnya. Namun yang lolos hanya kaus oblong, celana buntung, kolor dan sepatu. Rakin bugil. Bugil lagi. Berlari. Mencari Rasa. Di pasar. Pasar yang sepi. Yang mati.

R, sebagai penyair aku telah mati tapi sebagai pelari aku abadi!

Rakin meneriakkan kata-kata. Memekik. Memanggil-manggil Rasa. Melengking-lengking. Menggelinding. Sepasang kakinya berlari lagi. Sepasang matanya kini sehijau tahi kebo memandang bulat hijau yang merangkak di langit. Matahari hijau seperti balon yang meletus dalam lagu anak-anak.

***

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved