SOROT

Membangkrutkan Singapura

Lembaga survei, Merrill Lynch-Capgemini akhir 2015 menyebutkan, sepertiga dari orang superkaya Singapura adalah WNI.

Membangkrutkan Singapura
TRIBUN JABAR
Adityas Annas Azhari, Wartawan Tribun. 

Oleh Adityas A A
Wartawan Tribun

SEPANJANG pekan lalu media ramai memberitakan soal bank-bank besar di Singapura menempuh sejumlah cara untuk menahan pulangnya dana warga negara Indonesia (WNI) ke Indonesia dalam rangka amnesti (pengampunan) pajak. Bank-bank besar di Singapura tempat parkirnya dana (entah dana halal ataupun haram) dari para WNI siap membayar tarif deklarasi sebesar 4 persen untuk WNI yang mengikuti program amnesti pajak. Hal itu akan dilakukan bila WNI tetap memarkir dananya di Negeri Singa tersebut.

Selama ini banyak wajib pajak yang sengaja tidak mencantumkan hartanya dengan benar di surat pemberitahuan tahunan (SPT) pajak untuk menghindari pajak tinggi. Dalam UU Pengampunan Pajak yang disahkan DPR, tarif deklarasi sebesar 4 persen dari nilai aset. Perbankan Singapura juga menawarkan imbal hasil deposito lebih besar bagi WNI yang tetap memarkir dananya di Singapura. Wakil Presiden Jusuf Kalla pekan lalu mengatakan, upaya bank-bank Singapura itu membuktikan kebenaran analisa, bahwa uang terbanyak di Singapura berasal dari Indonesia.

Lembaga survei, Merrill Lynch-Capgemini akhir 2015 menyebutkan, sepertiga dari orang superkaya Singapura adalah WNI. Dari 55 ribu orang sangat kaya di Negeri Singa dengan total kekayaan sekitar 260 miliar dolar AS itu, 18 ribu di antaranya merupakan orang Indonesia. Diperkirakan ada Rp 4.000 triliun uang dari WNI yang di Singapura.

Bagaimana tidak, negeri kecil yang hanya 716 meter persegi dengan penduduk 5 juta jiwa itu, justru lebih banyak menarik keuntungan dari kekayaan berlimpah negeri tetangganya yang berpenduduk 50 kali lipatnya.

Negeri kecil yang tertib, bersih, dan warganya berdisiplin tersebut sebenarnya adalah pusat bisnis di Asia Tenggara sekaligus markas bagi mafia-mafia yang memperdaya Indonesia. Salah satu contoh adalah Petral. Sebelum dibubarkan tahun lalu, Pertamina Energy Trading Limited (Petral) sebagai anak perusahaan PT Pertamina itu menjadi tempat para mafia yang bertindak sebagai broker ekspor impor minyak ke negeri ini.

Tak hanya Petral, banyak konglomerat Indonesia yang mengeksplorasi kekayaan alam negerinya sendiri tapi mendirikan kantor pusatnya di Singapura. Misalnya Sukanto Tanoto, yang memiliki PT Garuda Mas International atau Martua Sitorus, pemilik Wilmar International Limited, pengusaha kelapa sawit yang memiliki pabrik biodiesel terbesar di dunia yang ada di Dumai.
Tentu saja jika program amnesti pajak ini sukses, maka Singapura kelabakan bahkan mungkin bangkrut. "Rp 3.000 triliun uang (Indonesia) ada di Singapura. Jika kembali masuk ke Indonesia, Singapura langsung jatuh," ujar pakar ekonomi, Aviliani, Maret lalu.

Singapura akan makin jatuh, jika Indonesia memiliki kepastian hukum yang jelas, birokrat dan aparat yang bersih, kualitas pendidikan bermutu tinggi (agar para siswa cerdas tidak dibidik dan diberi beasiswa oleh Singapura), serta pembangunan infrastruktur yang masif dan merata.
Kini pusat perbelanjaan Orchard Road dengan mal-malnya mulai sepi pengunjung. Ini peluang bagi pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia, merebut para pembeli yang doyan ke Singapura. Bandara Changi sebagai bandara transit terbaik dunia juga bukan tidak mungkin akan sepi jika kita sukses menjadikan Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta lebih baik. Ya, hanya dengan kerja keras, kerja cerdas, dan jujur, kita bisa mengalahkan pesaing terdekat kita itu. (*)

Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved