Cerpen Risda Nur Widia

Berburu Tuhan

SELAMA seribu tahun ratusan pemburu itu melangkah; menyisiri setiap kota, negeri, hingga ceruk bumi paling terpencil.

Berburu Tuhan
Ilustrasi Berburu Tuhan 

Semua mata memandang. Pun puluhan biji mata itu seketika berpijar. Mereka, para pemburu, menemukan hasrat berburu yang hampir hilang. Dan mungkin akan semakin menantang rencana yang dibuat itu. Demikain juga dengan sang raja. Ia yang sudah begitu lama menginginkan kekuasaan yang mutlak; semakin genap rasanya kalau ia berhasil melakukan perburuan kali ini.

"Bagaiamana caranya kita berburu Tuhan?"

"Kumpulkan seluruh orang alim di dunia ini. Suruh mereka datang ke sini dengan berbagai cara!"

**

DENGAN berbagai cara, akhirnya para orang alim dari seluruh dunia berhasil dikumpulkan. Jumlah mereka begitu banyak. Ribuan. Dan mereka dikumpulkan dalam satu lapangan yang begitu luas. "Tugas kalian di sini memanggil Tuhan," kata sang raja. "Pancing Tuhan datang agar kami bisa memburunya. Kami akan memberi waktu selama satu minggu. Apabila gagal, kalian kami bunuh."

Dan satu minggu kemudian. Belum ada tanda-tanda bahwa Tuhan memperlihatkan sosok-Nya. Para orang alim seolah gagal. Ratusan pemburu itu mulai geram. Mereka pun akhirnya mendatangi para orang alim di gubuk kecil tempat mereka istirahat. Pun karena tidak menemukan kesepakatan para pemburu mencoba membakar gubuk kecil itu. Membunuh mereka semua. Namun, api yang disulut untuk melululantakkan gubuk selalu padam.

"Apa yang sebenarnya terjadi!" kata seorang bingung. "Mengapa api itu tidak bisa membakar gubuk itu?"

Tiba-tiba tanpa mereka sadari, dari atas gubuk itu muncul sesosok cahaya. Cahaya itu begitu terang. Bahkan mereka yang menatap langsung dapat terbakar biji matanya.

"Tuhan datang! Tuhan datang!"

"Lekas buru Tuhan! Lekas bunuh Tuhan!"

Dengan pongah mereka memburu cahaya terang itu. Dan kemudian, selama ribuan tahun, mereka menjadi gelandangan karena memburu cahaya itu; menjadi kesunyian yang abadi. Bahkan dengan biji mata—dan mata hati—yang telah buta, mereka terus memburu cahaya itu. Keabadian itu: Tuhan.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved