Ilmu dan Teknologi

Kereen. . Mahasiswa ITS Surabaya Ini Ciptakan Sandal Khusus Tuna Netra

PEMAKAI bisa menggunakan headset untuk dapat mendengar dengan jelas...

NENENG USWATUN HASANAH
INOVASI DARI ITS SURABAYA - Aderia Hasanah (kiri) dan Yohan Prakoso (kanan) menunjukkan Santun, Sandal Tuna Netra yang mampu mendeteksi dan memberi peringatan pada pengguna ketika ada halangan. 

SURABAYA,TRIBUNJABAR.CO.ID - Penyandang tuna netrajuga memiliki hak yang sama untuk bisa berjalan tanpa halangan.

Pikiran tentang kesetaraan hak itu yang mengilhami lima mahasiswa ITS Surabaya untuk menciptakan sandal khusus penyandang tuna netra yang dapat mendeteksi adanya halangan di sisi kaki mereka ketika berjalan.

Aderia Hasanah, Eka Cahya Putra, Yohan Prakoso, M Zufar, dan Baitu Jannati menciptakan Santun (Sandal Tuna Netra) dengan sensor berbasis Android dan mikrokontroller.

"Kami menggunakan mikrokontroller sebagai penuntun jalan dengan sensor jarak tipe HC-SR04," jelas Aderia, mahasiswi Jurusan Matematika ITS.

Sensor jarak tipe HC-SR04 yang mereka gunakan dapat mendeteksi adanya halangan dari jarak 5 cm hingga 3 meter.

Namun, dikatakan gadis bercadar itu, saat ini mereka baru mensetting sensor pada jarak 5-10 cm.

Cara kerja Santun, adalah dengan menanamkan bluetooth pada sol sandal yang digunakan.

Bluetooth tersebut akan terhubung dengan aplikasi pada perangkat android dan pada mikrokontroller sebagai sensor adanya halangan.

Untuk menggunakan, pastikan bluetooth hidup dan terkoneksi dengan perangkat android dengan mengaktifkan passcode.

Kemudian dipastikan tidak ada yang menutupi sensor yang terpasang di kanan dan kiri sandal dan aplikasi diaktifkan.

"Ketika ada halangan yang tertangkap pada sensor yang berada di kanan dan kiri sandal, misalnya batu, aplikasi akan berbunyi memberi peringatan pada pemakai," jelasnya.

Pemakai bisa menggunakan headset untuk dapat mendengar dengan jelas peringatan "Awas kanan" atau "Awas kiri" yang disampaikan oleh aplikasi.

Namun, masih banyak keterbatasan yang memang harus masih dibenahi oleh tim pembuat Santun. Di antaranya adalah jarak sensor yang masih terbatas, database suara peringatan, interface android yang mengharuskan pengoperasian awal oleh pihak kedua, dan ketidakmampuan pembacaan halangan yang sejajar, serta penggunaan sandal yang harus dengan sol tebal.

Pembuatan Santun, diutarakan Aderia, tidak terlalu menyita banyak biaya. "Semua komponen sekaligus sepatu biayanya berkisar Rp 800-900 ribu," pungkasnya. (NENENG USWATUN HASANAH)

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved