Orang Tua dan Kebebasan Anak yang Terampas

KEBERHASILAN pendidikan seorang anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua

Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Deni Ahmad Fajar
TRIBUN JABAR
Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun. 

Orang Tua dan Kebebasan Anak yang Terampas
Oleh Deni A. Fajar

KEBERHASILAN pendidikan seorang anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua, hatta demikian kata para cerdik pandai. Para penggiat pendidikan juga mengamini dan mengimani hal itu. Dan kita, para orang tua, telah mempraktikkan bagaimana peran dan kewajiban membimbing anak dalam menimba ilmu yang baik dan benar. Sayangnya banyak dari kita yang salah pada langkah pertama saat menuntun anak memasuki dunia pendidikan. Lihat apa yang terjadi di musim penerimaan peserta didik baru, semua berlomba memasukkan anak ke sekolah favorit atau sekolah-sekolah elite. Padahal sekolah favorit dan sekolah elite tidak otomatis menjadi tempat yang cocok bagi anak-anak kita menimba ilmu. Sekolah favorit juga tidak memberi garansi kepada semua anak didik untuk menjadi yang terbaik seperti yang disuarakan dalam brosur dan iklan-iklan.

Bukan tidak mungkin, sekolah favorit dan sekolah elite dengan berbagai peraturannya yang ketat, justru membelenggu kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, dan kebebasan berimajinasi para peserta didik. Bila itu yang terjadi, sekolah akan menjelma tempat "angker" dan membosankan yang berpeluang besar melahirkan tragedi seperti yang dituturkan Peter Weir dalam Dead Poet Society (1989).

Lewat Dead Poet Society, Weir menceritakan sekelompok siswa sekolah elite Welton Academy yang menerapkan peraturan ketat sekaligus kolot. Di bawah peraturan kaku seperti itu, para siswa yang menamakan diri kelompok Dead Poet Soceity, menemukan kebebasan berekspresi dan keriangan dalam belajar di bawah bimbingan guru cerdas nan egaliter bernama John Keating (Robin Williams). Celakanya di sekolah elite yang menerapkan sederet peraturan yang ketat, keras, dan rigid tersebut semangat kebebasan berekspresi dan atmosfer kreativitas yang melenceng dari peraturan adalah tabu yang harus dihindari. Di Welton Academy, semua siswa dituntut hidup dan belajar sesuai peraturan yang diterapkan secara kaku.

Ketika semua siswa diwajibkan jadi anak penurut dan kebebasan mengekspresikan diri ditelikung, Neil Perry, seorang siswa cerdas yang menemukan dunia melalui puisi dan panggung drama, memilih mengakhiri hidup sebagai bentuk pemberontakan kepada orang tua dan sekolahnya yang tidak merestui dia meniti hidup sebagai individu yang bebas.

Kita, orang tua yang selalu memaksakan kehendak terhadap anak, disindir habis oleh Weir lewat Dead Poet Society. Lewat film tersebut, Weir mengingatkan kita semua akan pentingnya memberikan kebebasan kepada anak-anak kita untuk memilih jalan menuju masa depannya. Kita para orang tua tidak zamannya lagi mengarahkan anak-anak kita pada pilihan yang sangat mungkin dibenci anak-anak kita.

Faktanya, orang tua (dan juga sekolah) kerap menutup mata terhadap bakat dan energi lain yang dimiliki anak. Orang tua dan sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya membimbing, menuntun, dan ikut menggali bakat serta energi kreativitas siswa. Orang tua dan juga sekolah seharusnya membebaskan siswa dari dalam tubuh dan jiwa yang terpenjara kekakuan peraturan atas nama norma, moral, tatakrama, dan lain-lain.

Nafsu untuk menyetir anak dengan harapan lahir menjadi individu yang "berhasil" sesuai keinginan orang tua dan sekolah, akan mengantarkan anak atau peserta didik ke dunia yang asing.

Kita idealnya berperan seperti tokoh mama dan kepala sekolah dalam buku Toto Chan Gadis Kecil di Jendela. Dalam buku karangan Tetsuko Kuronayagi itu, tokoh mama dan kepala sekolah adalah individu-indidu pembimbing, pendengar, dan mengetahui kelebihan serta kekurangan anak.

Berbekal sikap seperti itu, mama berhasil menemukan sekolah baru untuk Toto yang dikeluarkan dari sekolah lamanya. Toto dikeluarkan dari sekolah lamanya karena "tidak bisa diam" ketika teman-temannya belajar suntuk. Toto terusir dari sekolah karena suka membuka-buka tutup meja dan mengeluarkan semuai isinya. Toto juga suka berdiri di jendela kelas hanya untuk menunggu pengamen keliling lewat dan berbicara dengan burung yang bermain di pohon dekat kelasnya.

Di sekolahnya yang baru, Toto menemukan kebasan untuk menyalurkan energi kreatifnya. Di sekolah barunya Toto juga menemukan individu-individu yang mendorong dirinya untuk menemukan kebebasan untuk menentukan masa depannya.

Mendengar dan Membimbing
Kesalahan kita sebagai orang tua dalam hal pendidikan, adalah alpanya untuk mendengar dan membimbing anak-anak kita. Kita sebagai orang tua merasa paripurna dengan measukkan anak-anak kita ke sekolah favorit dan sekolah elite. Padahal tugas kita sebagai orang tua tidak berhenti hanya dengan memasukkan anakanak kita ke sekolah. Ada tugas lain bagi kita, yaitu membuka diri untuk mendengarkan dan membimbing anak-anak kita sepulang dari sekolah. Di rumah, anak-anak kita adalah "murid-murid" yang haus akan perhatian dan bimbingan kita.

Maraknya kasus kejahatan yang melibatkan remaja dan anak-anak usia sekolah, menurut hemat saya adalah buah dari kelalaian orang tua dalam membimbing dan memberi perhatian kepada anakanak kita. Tanpa itu semua, anak-anak akan menjalani hidup dengan segala pengaruh yang mereka dapat di sekolah dengan individu-individunya yang heterogen dan datang dari latar yang berbeda.

Kita merasa percaya anak-anak menjalani hidupnya dalam dunia yang steril. Padahal sekolah dan bahkan rumah bukan atmosfer yang steril dari hal-hal negatif. Kemajuan teknologi, idealnya menjadi alat bantu efektif bagi anak-anak kita untuk menunjang kemajuan studinya. Kemajuan teknologi, idealnya menjadi alat yang pas untuk menunjang daya kreatif anak-anak. Namun tanpa bimbingan dari kita, para orang tua, anak-anak dengan bebas menemukan dunia-dunia yang seharusnya belum bisa dikonsumsi di usia mereka.

Tanpa bimbingan orang tua, teknologi akan menjadi racun yang membunuh jiwa dan merusak moral anak-anak kita. Tanpa bimbingan orang tua, anak-anak akan menggunakan teknologi menemukan hal-hal yang justru akan menuntun mereka ke dunia yang gelap bagi masa depan mereka.

Celakanya orang tua juga salah langkah dalam memanfaatkan teknologi. Kita misalnya menggunakan teknologi bukan untuk menambah informasi dan ilmu, namun hanya sebatas untuk bergosip ria tentang hal-hal yang jauh dari bermanfaat, misalnya bergosip tentang artis dengan gaya hidupnya yang hedonis. Bila itu yang terjadi, jangan heran bila berita tentang anak-anak yang terlibat kejahatan semakin marak.

Untuk mencegah hal itu, tampaknya kita harus berperan seperti tokoh mama dan kepala sekolah di buku Toto Chan Gadis Kecil di Jendela atau kembali menonton Dead Poet Society. (deni a. fajar)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved