Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
ICMI Kabupaten Cianjur punya forum diskusi baru
KABUPATEN Cianjur dituliskan dalam beragam arus utama buku-buku sejarah sebagai...
Penulis: Dian Nugraha Ramdani | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Dian Nugraha Ramdani
CIANJUR, TRIBUNJABAR.CO.ID --- Kabupaten Cianjur dituliskan dalam beragam arus utama buku-buku sejarah sebagai kota yang damai, tenteram, dan tanpa gejolak.
Bahkan disebut sebagai daerah penghasil kopi terbaik dan terbanyak pada masa Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC).
Ternyata pada kenyataannya sangatlah tidak wajar.
Hal itu terungkap, dalam diskusi perdana Forum Diskusi Harmoni di halaman kantor Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Cianjur, Jumat (24/6/2016) sore.
Terkuak betapa banyak pemberontakan di Cianjur, bahkan hingga menewaskan salah satu bupatinya.
Tema diskusi Pergolakan dalam Secangkir Kopi; Ekses Tanam Paksa Kopi di Cianjur Era VOC membedah bahwa kopi adalah dalang beragam pemberontakan di Cianjur.
Hendi Johari, Sejarawan sekaligus Wartawan Sejarah yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut menyebutkan, pada tahun 1720, VOC menghargai satu pikul kopi (beratnya 150 pon) senilai 17,50 ringgit. Oleh Bupati Cianjur ketika itu, Aria Wiratanu III, kopi dari rakyat dibeli senilai 12,50 ringgit.
"Artinya, ada potongan sebesar 5 ringgit. Padahal VOC menyuruh harga kopi 17,50 ringgit. Kekacauan ini yang membuat rakyat marah," ujarnya dalam diskusi itu seraya menyebutkan lahan kopi dahulu adalh yang kini daerahnya disebut Selakopi di Jalan Ir H Juanda. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/suasana-diskusi-tentang-tanam-paksa-kopi-di-kabupaten-cianjur_20160624_225035.jpg)