Breaking News:

OPINI

''Memulangkan'' Sang Ayah ke Rumah

Jika dalam hal pendidikan anak ada dikotomi ayah dan ibu, maka ini adalah kekeliruan besar.

''Memulangkan'' Sang Ayah ke Rumah
dokumentasi
Kisdiantoro

Memulangkan Ayah
Pengaruh positif keterlibatan ayah dalam mendidik anak bukan sekadar teori. Banyak orang tua yang telah membuktikannya. Hafiz cilik asal Bangka, Musa La Ode Abu Hanafi, yang meraih juara dunia lomba Musabaqah Hifzil Quran Internasional kategori 30 juz untuk anak-anak di Mesir adalah contoh keterlibatan ayah dalam mendidik anak. Sang ayah membangun visi dan misi yang jelas dalam mendidik anak. Dan hasilnya luar biasa, Musa terbiasa mengaji tanpa kehilangan masa kecilnya untuk bermain.

Contoh lainnya adalah Gol A Gong yang namanya dikenal sebagai sastrawan, penulis novel, dan pegiat literasi. Kehadiran ayahnya di rumah berhasil mengembalikan semangatnya untuk terus menjalani hidup setelah mengalami kecelakaan jatuh dari pohon yang mengharuskan tangan kirinya diamputasi. Waktu itu usianya baru 11 tahun. Berkat sang ayah ia tumbuh menjadi pribadi yang mencintai buku dan percaya diri dengan keadaannya.

Betapa berartinya kehadiran ayah dalam pendidikan anak, maka diperlukan upaya untuk "memulangkan" ayah ke rumah. Ayah pulang ke rumah dalam arti yang sebenarnya, hadir secara fisik dan mencurahkan waktu dan kasih sayangnya kepada anak-anak. Betapa banyak para ayah pulang ke rumah setelah tujuh jam bekerja tetapi masih sibuk dengan teman-temannya di dunia maya. Ia terlihat begitu asyik dengan candaan teman-temannya. Padahal anak sudah sejak lama menunggu kehadiran orang tua, bahkan sejak mereka masih berada di kantor. Merengek meminta bermain malah mendapatkan marah. "Pergi sana, mengganggu saja," demikian teriakan sang ayah. Maka, anak pun pergi dengan perasaan hancur dan dendam di dalam hati. Inilah keadaan sebagian para orang tua di zaman internet.

Jika menghendaki anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab, pemberani, dan percaya diri, ayah harus berani memasung hasratnya untuk terus sibuk dengan gadget-nya atau pekerjaan lainnya. Ayah pulang ke rumah untuk mencurahkan perhatiannya kepada anak-anak. Memeluk, mencium, dan mengajak anak bermain. Lalu di selanya, ayah mengajarkan budi pekerti dan kemandirian. Perhatian itulah medium untuk menstranfer kemandirian dan keberanian kepada anak. Banyak penelitian yang menyebutkan anak yang kerap mendapat pelukan ayah cenderung tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.

Teladan
Mendidik anak memerlukan keteladanan atau kesalehan orang tua, ayah dan ibu. Orang tua adalah model yang akan diduplikasi anak-anak karena mereka belajar dengan cara meniru orang-orang yang dilihatnya. Anak-anak juga belajar dengan cara mendengar apa yang diucapkan oleh orang di sekelilingnya. Sayangnya, banyak di antara orang tua yang tak segera menyadari akan dampak buruk dari contoh tidak terpuji.

Selain akan ditiru, contoh buruk juga akan memberi efek resitensi pada anak-anak untuk mengerjakan perintah orangtua, meskipun itu adalah tugas yang mulia. Contoh, ketika orangtua memerintahkan anak-anak tidak merokok, tapi orangtua tetap merokok bahkan dilakukan di depan anak-anak, maka perintahnya sulit untuk dipatuhi.

Seperti halnya teori yang disebutkan prikolog Albert Bandura, cara belajar efektif yang paling awal dikenal manusia adalah meniru. Anak akan melakukan pengamatan pada sesuatu yang menarik. Lalu mereka mulai belajar menirukan apa telah dilihatnya. Untuk itulah orang tua harus memberikan contoh nyata bagi anak. Itu penting karena apa yang kita katakan dan lakukan di depan anak akan membentuk pikirannya. Maka, jika para orang tua menghendaki anak-anak bersikap jujur dan malu mengambil hak orang lain, para orang tua lah yang paling pertama melakukannya. ***

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved