Teras

Kiri. . .

TAPI tekadnya meninggalkan kuliah kedokteran dan memilih menjadi penulis...

Kiri. . .
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

SAYA tidak mengenal persis biografi Lu Xun, sastrawan Cina yang dikagumi Mao Zedong dan elite Partai Komunis Cina.

Tapi tekadnya meninggalkan kuliah kedokteran di Jepang dan memilih menjadi penulis membuat saya terpesona.

Kisahnya saya baca dari I Wibowo, pakar Cina dari Universitas Indonesia, lewat tulisannya di Jurnal Kalam edisi 2001.

Barangkali kita menganggapnya sepele, apalagi dipandang dari era ketika kapitalisme kian berjaya menggulung sosialisme dan komunisme, tapi bagi Lu Xun telah membuatnya sadar sebagai manusia utuh.

Pada 1906, ia melihat slide film perang Rusia-Jepang. Di dalam adegan itu ada dua orang Cina. Yang satu sedang disiksa oleh tentara Jepang, yang satu lagi hanya menonton.

Bagi Lu Xun, orang Cina yang hanya menonton nasib sebangsanya itu dianggapnya sakit dan tak bisa disembuhkan oleh dokter.

Mata hatinya kemudian terbuka untuk hengkang dari studi kedokteran dan memilih jadi sastrawan.

Hanya lewat tulisan ia yakin bisa menyembuhkan orang-orang Cina seperti yang ada dalam slide itu, yang tanpa berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan rekan sebangsanya menderita disiksa.

Lu Xun kemudian dikenal sebagai sastrawan Cina yang tulisan-tulisannya menginspirasi para petinggi PKI Cina.

Ia membaca karya Karl Marx, tapi ia sendiri bukan komunis.

Halaman
123
Penulis: cep
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved